Lauk Sahur Para Pendiri Bangsa Saat Susun Teks Proklamasi, Ini Sejarah Sarden

  • Whatsapp

KOMPAS.comĀ  – Saat menjelang Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, kala itu Soekarno dan Mohammad Hatta segara menyiapkan segala sesuatu terkait proklamasi.

Read More

Mereka harus menyiapkan rumusan teks untuk menandai Kemerdekaan Indonesia.

Ketika itu, 16 Agustus 1945, bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 Hijriah atau dalam suasana Ramadhan.

Pada malam 16 Agustus 1945, Achmad Soebardjo membawa kedua pemimpin negara itu menuju rumah Laksamana Maeda. Di sinilah dirumuskan naskah proklamasi kemerdekaan.

Akhirnya di ruang makan Laksamana Maeda dirumuskan naskah proklamasi kemerdekaan yang merupakan pemikiran tiga tokoh, yaitu Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Ruang makan itu menjadi saksi bisu penyusunan teks proklamasi.

Setelah semalaman berembuk, akhirnya pada dini hari 9 Ramadhan 1364, tepat 76 tahun lalu dalam perhitungan Hijriah, teks itu selesai dan segera diketik.

Dalam buku Sekitar Proklamasi (1981) Bung Hatta mengatakan bahwa dirinya sempat diberi makan sahur di kediaman Laksana Maeda.

” Sahur…..Sahur!,” suara terdengar dari rumah kediaman Maeda menunjukan waktu untuk Muslim bersahur.

Makanan itu telah disiapkan oleh Satsuki Mishina, selaku asisten rumah tangga Laksamana Maeda dan satu-satunya perempuan yang ada dalam rumah tersebut.

“Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saya masih dapat makan sahur di rumah Admiral Maeda,” kenang Hatta.

Mishina membuat dan menyiapkan nasi goreng, telur, dan ikan sarden. Setelah selesai masak, jamuan segera dihidangkan kepada para tokoh perumus proklamasi.

Sajian ikan sarden menjadi salah satu makanan yang mengisi perut para tokoh perumusan proklamasi saat sahur.

Sarden telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebelum Kemerdekaan RI, apa asal usulnya?

Sejarah sarden dan makanan kaleng di Indonesia

Menurut Travelling Chef Wira Hardiansyah, ikan sarden dikenal dengan sebutan ikan lemuru atau Sardinella lemuru (Bali sardinella).

Ikan ini tersebar di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik bagian barat. Di Indonesia, ikan ini banyak ditemukan di Selat Bali, kerap juga disebut ikan kucing.

Ikan sarden sudah dinikmati oleh masyarakat Indonesia sejak lama, bahkan semua golongan bisa mencicipinya.

Tak seperti bahan pangan layaknya daging sapi yang bisa dinikmati oleh bangsawan Eropa atau golongan priyayi.

“Biasanya kalau olahan ikan zaman dulu tidak ada kasta alias siapa saja bisa mengonsumsi,” jelas Wira saat dihubungi oleh Kompas.com, Selasa (11/8/2020).

Wira menjelaskan sarden lebih sering di bakar karena lebih mudah dimasak bagi para nelayan dan keluarganya.

Sementara bagi kaum menengah keatas biasa di tumis dengan saus tomat atau jaman dulu di kenal dengan “sardencis”.

Sarden yang identik dengan makanan kaleng sudah dikenal sejak lama.

Wira menjelaskan jika makanan kaleng sudah dikenal dan masuk ke Hindia Belanda sejak 1614. Hal ini tercatat dalam Priangan, de Priangen-Regentschapen onder het Nederlansdsch Bestuur tot 1811.

shutterstock Ilustrasi makanan kaleng

Pada akhir abad ke 17, sudah ada pengiriman kaviar atau telur ikan dan buah zaitun kalengan. Sementara ikan asap dengan saus dalam kaleng menyusul masuk ke Batavia pada 1794.

Makanan kaleng ini kebanyakan didatangkan dari Eropa untuk memenuhi kebutuhan warga Eropa yang ada di Hindia Belanda.

“Akhirnya pada 1948 ada pabrik makanan kaleng di Denpasar, Bali, yakni Canning Indonesian Products (CIP),” jelas Wira.

Pabrik makanan ini awalnya dimiliki oleh perusahaan Taiwan Chikusan.

Pabrik tua ini dulunya didirikan pada masa pendudukan Jepang untuk memenuhi kebutuhan logistik perang saat masa kolonial Jepang di Indonesia.

#Lauk #Sahur #Para #Pendiri #Bangsa #Saat #Susun #Teks #Proklamasi #Ini #Sejarah #Sarden

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts