Hampir 2 Juta Perempuan Kehilangan Akses Kontrasepsi dan Aborsi di Tengah Pandemi Virus Corona

  • Whatsapp

JENEWA, KOMPAS.com – Hampir 2 juta wanita dan anak perempuan di 37 negara telah kehilangan akses terhadap kontrasepsi dan layanan aborsi karena pandemi virus corona.

Read More

Melansir Al Jazeera pada Kamis (20/8/2020), Marie Stopes International (MSI) merilis laporan tersebut antara Januari dan Juni yang dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. 

MSI memperkirakan ada tambahan 900.000 kehamilan yang tidak diinginkan di seluruh dunia. Sebagai akibatnya, terdapat penambahan 1,5 juta tindakan aborsi tidak aman, dan lebih dari 3.000 kematian ibu terkait masalah reproduksi.

Badan Kesehatan Dunia ( WHO) bulan ini mengatakan dua pertiga dari 103 negara yang disurvei antara pertengahan Mei dan awal Juli melaporkan gangguan pada layanan keluarga berencana dan kontrasepsi.

Dana Kependudukan PBB memperingatkan hingga 7 juta kehamilan yang tidak diinginkan terjadi di seluruh dunia.

Lockdown, pembatasan perjalanan, gangguan rantai pasokan, peralihan sumber daya kesehatan secara besar-besaran untuk memerangi Covid-19, dan ketakutan akan infeksi terus menghalangi banyak wanita dan anak perempuan dari perawatan kesehatan reproduksi.

Beberapa negara bahkan tidak menganggap layanan kesehatan seksual dan reproduksi penting di bawah lockdown, yang berarti perempuan dan anak perempuan ditolak untuk mendapatkan perawatan tersebut.

Di India, dengan diberlakukannya lockdown selama berbulan-bulan, mempengaruhi 1,3 juta wanita terkait hal reproduksi.

Dr Shewetangi Shinde dari organisasi Advokat Remaja Aborsi Aman India mengatakan kepada kantor berita The Associated Press, bahwa India mendaftarkan pelayanan aborsi sebagai layanan penting di tengah lockdown, tetapi banyak yang tidak menyadarinya.

Di kota besar Mumbai, India, seorang wanita tidak dapat menemukan alat tes kehamilan setelah lockdown dimulai pada Maret, dan kemudian tidak dapat menemukan transportasi untuk mencapai perawatan tepat waktu, kata Shinde, yang merawatnya di rumah sakit umum.
Saat itu, aborsi medis bukan merupakan pilihan karena kehamilannya sudah terlalu lanjut.

Dampak pandemi menjadikan banyak wanita sulit untuk mengakses layanan aborsi dengan aman, kata Dr Suchitra Dalvie, seorang ginekolog di Mumbai dan koordinator Asia Safe Abortion Partnership.

Di Afrika, lonjakan kehamilan remaja dilaporkan di Kenya.

Sementara, beberapa wanita muda di daerah kumuh Kibera Nairobi terpaksa menggunakan pecahan kaca, tongkat, dan pena untuk mencoba menggugurkan kehamilan, kata Diana Kihima dari Pusat Dukungan Wanita.

Dua meninggal karena luka-luka mereka, sementara beberapa tidak bisa hamil lagi.

Menurut International Planned Parenthood Federation, di beberapa daerah Afrika Barat, penyediaan alat kontrasepsi turun hampir 50 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

MSI memperingatkan bahwa angka global perempuan yang terkena dampak lockdown “akan sangat tinggi” terkait reproduksi dan aborsi, jika layanan tersebut goyah di daerah lainnya di Amerika Latin, Afrika, dan Asia.

Sementara itu, tenaga kesehatan wanita berjuang keras untuk menemukan solusi untuk masalah reproduksi dan aborsi, seperti telemedicine, pengiriman kontrasepsi ke rumah dan aborsi medis di rumah.

“Di banyak negara, efek terburuk Covid-19 belum datang dan di negara lain gelombang kedua (virus corona) sudah di depan mata,” ujar kepala eksekutif MSI, Simon Cooke.

“Tetapi, ada peluang untuk memanfaatkan momen (pandemi virus corona) sebagai katalisator untuk mengubah layanan dan membuat kehidupan perempuan lebih baik di masa depan daripada saat ini,” imbuhnya.

 

#Hampir #Juta #Perempuan #Kehilangan #Akses #Kontrasepsi #dan #Aborsi #Tengah #Pandemi #Virus #Corona

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts