Populasi Orangutan Indonesia Kritis, Bagaimana Melindunginya di Alam?

  • Whatsapp

KOMPAS.com– Indonesia merupakan negara terkaya pertama mengenai keanekaragaman hayati atau biodiversitas secara keseluruhan dari laut dan daratan.

Read More

Hal ini merupakan kebanggan sekaligus tanggung jawab besar yang dimiliki oleh seluruh masyarakat nusantara. Salah satunya adalah orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan yang saat ini memasuki populasi terancam kritis atau critically endangered (CR).

Status konservasi terancam kritis itu dikeluarkan oleh Serikat Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN). Orangutan Sumatera telah lebih dulu menyandang status ini.

Status konservasi terancam kritis menurut IUCN adalah kondisi flora atau fauna tersebut menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar.

Pasalnya, selain terancam populasinya kritis, ternyata banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan oleh manusia jika populasi orangutan di Indonesia ini terselamatkan.

Ada banyak alasan yang seharusnya kita ingat sebagai manusia, mengapa penting sekali menyelamatkan dan menjaga populasi orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan ini.

Di antara alasan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Menjaga kesehatan dan kelestarian alam hujan tropis
  2. Spesies payung yang artinya melindungi orangutan sama dengan melindungi spesies satwa lainnya di alam
  3. Regenerasi hutan terbaik
  4. Potensi ekplorasi keilmuwan studi perilaku dari sisi antropologi, biologi, kehutanan, hingga bioteknologi, yang mirip 97 persen dengan manusia

Lantas, bagaimana menjaga populasi orangutan yang sudah terancam kritis ini?

Praktisi Konservasi Habitat Satwa Terancam Punah YKAN, M Arif Rifqi menjelaskan penting sekali kita untuk menjaga ekosistem dan keberadaan orangutan agar tidak punah.

“Orangutan adalah spesies payung, jadi melindungi mamalia ini diharapkan dapat melindungi spesies lainnya yang hidup pada habitat yang sama,” kata Arif dalam diskusi daring oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang bertajuk Conservation Talk: Orangutan dan Kita, Rabu (19/8/2020).

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Sunandar Trigunajasa menegaskan bahwa melindungi populasi orangutan yang terbaik adalah dengan menjaga habitatnya.

PIXABAY Ilustrasi orangutan.

Adapun habitat yang mendukung perkembangbiakan orangutan adalah sebagai berikut.

  • Memiliki kanopi hutan yang bagus
  • Tajuk pohon lebat
  • Memiliki produktivitas pohon buah tinggi (menjadi yang paling penting)

Sementara, predator utama orangutan adalah manusia dengan segala kegiatan baik dari sisi pembangunan yang merusak habitat alaminya, maupun pemburuan dan penjualan satwa yang dilindungi itu sendiri.

Oleh sebab itu, Sunandar menegaskan butuh kerja sama dan komitmen dari berbagai pihak agar bisa melakukan konservasi orangutan dengan baik.

Kunci konservasi adalah kolaborasi

Upaya konservasi orangutan di luar habitat alami menjadi salah satu pilihan untuk menyelamatkan satwa ini dari kepunahan.

Adanya upaya kolaboratif yang melibatkan seluruh pihak menjadi kunci untuk melindungi populasi orangutan.

Salah satu contoh kemitraan atau kerja sama dengan bentuk komitmen konservasi orangutan ini adalah pengelolaan habitat orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay, yang disebut dengan Forum Kawasan Ekosistem Esensial Wehea-Kelay.

Saat ini, pengelolaan habitat di kawasan tersebut telah melibatkan 23 mitra mewakili sektor pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, perguruan tinggi, masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat.

Penasihat Konsesi Kehutanan PT Gunung Gajah Abadi Group Prof Soeyitno Soedirman menyatakan bahwa keberadaan orangutan di wilayah perusahaan adalah sebuah aset ekosistem.

“Kami sudah bergabung bersama Forum Kawasan Ekosistem Esensial Wehea-Kelay, belajar bersama-sama tentang bentang alam di wilayah ini, memahami dan menyadari potensi keanekaragaman hayati di wilayah ini. Kami survei bersama, kami petakan bersama, dan membuat protokol yang disepakati bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Arif berkata, upaya yang baik dari kolaborasi untuk mengelola penjagaan atau perlindungan habitat orangutan tentunya membutuhkan data.

Sebab, kebijakan terhadap pengelolaan bentang alam sebagai kawasan orangutan tersebut nantinya tidak ditetapkan asal prakira saja, melainkan berdasarkan basis data yang terjadi di lapangan.

Seseorang petugas menggendong orangutan sumatera (Pongo abelii) di Pusat Karantina Orangutan Sumatera di Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Deli Serdang. Aktor Hollywood dan pegiat lingkungan internasional, Leonardo Di Caprio memberikan dukungan dalam upaya perlindungan orangutan sumatera (Pongo abelii) dari ancaman Covid-19. Dukungan itu dilakukannya dengan mengunggah kampanye crowd funding Sumateran Orangutan Conservation Programme (SOCP) yang berbasis di Medan, Sumatera Utara.Istimewa Seseorang petugas menggendong orangutan sumatera (Pongo abelii) di Pusat Karantina Orangutan Sumatera di Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Deli Serdang. Aktor Hollywood dan pegiat lingkungan internasional, Leonardo Di Caprio memberikan dukungan dalam upaya perlindungan orangutan sumatera (Pongo abelii) dari ancaman Covid-19. Dukungan itu dilakukannya dengan mengunggah kampanye crowd funding Sumateran Orangutan Conservation Programme (SOCP) yang berbasis di Medan, Sumatera Utara.

Kajian kondisi habitat orangutan

Kajian Population and Habitat Viability Assessment Orangutan (PHVA) 2016 juga menunjukkan bahwa kondisi habitat orangutan Kalimantan Timur yang masih baik bisa ditemukan, salah satunya di bentang alam Wehea-Kelay dan Sungai Lesan.

Tingkat keanekaragaman hayati di kawasan bentang alam ini disebutkan masih cukup tinggi. Hal ini digambarkan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan YKAN pada 2016-2018, yang dimuat dalam buku berjudul Orangutan Kalimantan dan Habitatnya di Bentang Alam Wehea-Kelay.

Berdasarkan kajian tersebut, setidaknya ada 1.200 individu orangutan yang tersebar pada tiga submetapopulasi, yaitu Kelay-Gie, Wehea dan Telen.

Namun, akumulasi populasi yang tersebar di 42 sub meta populasi di Borneo diperkirakan terdapat 57.350 pada tahun 2016 dan diprediksikan sudah semakin berkurang populasi tersebut di tahun 2020 ini.

“Dulu kita bisa bilang Kalimantan masih aman. Populasinya antara 35.000-55.000 (individu). Tapi setelah survei naik lagi (keparahannya), sekarang sama dengan Sumatera, kritis,” kata pakar orangutan Universitas Indonesia Rondang Siregar, saat ditemui di Jakarta Pusat oleh Kompas.com, Rabu (3/7/2019).

Kajian ini turut mengidentifikasi lebih dari 500 jenis satwa liar dan lebih dari 400 jenis pohon, yang sekitar 30 persen di antaranya merupakan pakan orangutan Kalimantan sub jenis Pongo pygmaeus morio.

Sementara, untuk kajian PHVA populasi dan distribusi orangutan Sumatera (Pongo abelii) pada tahun 2004, dari 10 sub meta populasi orangutan ini diperkirakan terdapat 14.470 dan diprediksi sudah berkurang dari jumlah tersebut di tahun 2020 ini.

#Populasi #Orangutan #Indonesia #Kritis #Bagaimana #Melindunginya #Alam

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts