Frustasi Anak TK di Eropa Hingga Menangis Saat Harus Sekolah secara Online

  • Whatsapp

TBILISI, KOMPAS.com – Seoarang anak 5 tahun kepayahan mengikuti pembelajaran virtual di tengah pandemi Covid-19.

Read More

Jana Commbs, melihat langsun betapa sulitnya perjuangan anaknya untuk mengikuti kelas belajar secara virtual pada pekan lalu.

Anaknya berusia 5 tahun, seorang murid taman kanak-kanak di sebuah sekolah di Coweta County, Georgia.

Melansir pemberitaan CNN pada Selasa (25/8/2020), Commbs membagikan pengalamannya saat menyaksikan anaknya yang frustasi hingga menangis ketika mengikuti pembelajaran di depan layar laptop.

Tidak tega melihatnya, Commbs merasa harus melakukan sesuatu. Sehingga, dia mengambil foto dan membagikan momen itu secara online pada 17 Agustus lalu.

Ia berharap tindakannya dapat meningkatkan kesadaran orang-orang tentang kesulitan yang dihadapi beberapa siswa sekolah saat tidak berada di ruang kelas secara langsung.

“Saya hanya mengambil foto itu karena saya ingin orang melihat kenyataan,” kata Coombs kepada afiliasi CNN, WXIA.

Setelah mengambil foto anaknya, sang anak mendekatinya, “Dan kemudian dia datang dan kami berpelukan. Aku menangis bersamanya.”

Awal tahun ajaran telah menyebabkan para pendidik dan orang tua berselisih di seluruh negeri tentang memulai kelas tatap muka di tengah pandemi virus corona.

Hingga Selasa, virus corona telah menginfeksi lebih dari 5,7 juta orang dan menewaskan lebih dari 178.000 orang di seluruh negeri, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Sebagian besar sistem sekolah nasional memutuskan untuk memulai tahun ajaran sepenuhnya secara online, tetapi beberapa pendidik menyambut siswa kembali ke sekolah secara penuh.

Beberapa sekolah melakukan kombinasi sistem keduanya, online dan pembelajaran tatap muka.

Beberapa penelitian, termasuk laporan yang diterbitkan pada Agustus oleh American Academy of Pediatrics dan Children’s Hospital Association, telah menunjukkan betapa mudahnya anak-anak tertular dan menyebarkan virus corona.

Namun, beberapa dokter anak juga memperingatkan bahwa pembelajaran jarak jauh memiliki konsekuensi negatif bagi siswa usia dasar dan keluarga yang bekerja, karena banyak yang tidak memiliki pengasuh anak.

Coombs mengatakan kepada CNN bahwa dia yakin anak-anak, termasuk putranya, kesulitan tanpa memiliki pilihan untuk belajar secara langsung.

“Pendidikan sangat penting untuk anak-anak ini, dan itu lebih dari satu tambah satu sama dengan dua,” kata Coombs kepada CNN.

Menurut Commbs, sosialisasi dan pengalaman langsung adalah cara belajar terbaik bagi anak-anak sekolah usia dasar.

Ibu empat anak ini mengatakan dia juga merasakan apa yang dirasakan keluarga lainnya, di mana mereka yang kerepotan mengasuh anak, mengurus keluarga, sekaligus berusaha menjadi guru anak di rumah.

“Menyulap rumah tangga yang memiliki bayi di rumah, untuk menerima 5.000 email setiap hari dari semua guru mereka, mencoba mengikuti…dengan aplikasi berbeda, kode berbeda, platform berbeda, beberapa tautan tidak berfungsi,” kata Coombs kepada WXIA.

“Anda harus menjalankan dari satu laptop ke laptop lainnya,” ucapnya.

Namun, dia tetap bersyukur terhadap para guru yang telah berusaha “untuk membuat ini (materi pembelajaran) semudah mungkin.”

#Frustasi #Anak #Eropa #Hingga #Menangis #Saat #Harus #Sekolah #secara #Online

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts