WHO: Herd Immunity Berbahaya dan Tidak Etis, Ini Solusi Atasi Pandemi

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Gagasan mengenai herd immunity atau kekebalan kawanan dalam menghadapi pandemi virus corona sempat mencuat beberapa bulan lalu. 

Read More

Herd immunity terjadi ketika sebagian besar komunitas menjadi kebal terhadap penyakit melalui vaksinasi, atau banyak orang yang terinfeksi kemudian sembuh dan memiliki imunitas bawaan. 

Namun banyak ahli epidemiologi menentang ide ini tanpa adanya vaksin Covid-19. Sebab Covid-19 dinilai penyakit baru yang belum banyak ilmuwan mengetahui sifatnya secara keseluruhannya. 

Termasuk Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus yang mengatakan bahwa pendekatan seperti herd immunity bermasalah secara ilmiah dan etis.

Kesalahpahaman herd immunity

Dilansir laman WHO, Senin (12/10/2020), baru-baru ini telah ada beberapa diskusi tentang konsep mencapai apa yang disebut ” kekebalan kelompok” dengan membiarkan virus menyebar.

Hal itu karena melihat meningkatnya kasus Covid-19 dilaporkan dari seluruh dunia, terutama Eropa dan Amerika. Selama 4 hari terakhir keduanya mencatatkan jumlah kasus tertinggi sejauh ini.

Selain itu banyak kota dan negara juga melaporkan peningkatan rawat inap dan perawatan intensif di tempat tidur.

Menurut Tedros konsep herd immunity terkait dengan vaksinasi dan bukan tentang membiarkan virus menyebar ke banyak orang.

“Herd immunity merupakan konsep yang digunakan untuk vaksinasi, dimana suatu populasi dapat terlindungi dari virus tertentu jika ambang vaksinasi tercapai,” kata dia.

Pihaknya mencontohkan herd immunity pada campak, dibutuhkan sekitar 95 persen populasi untuk divaksinasi.

Kemudian 5 persen sisanya akan dilindungi oleh fakta bahwa campak tidak akan menyebar di antara mereka yang divaksinasi.

Sementara itu untuk polio, ambangnya sekitar 80 persen.

“Dengan kata lain, kekebalan kelompok dicapai dengan melindungi orang dari virus, bukan dengan membuat mereka terpapar virus,” kata Tedros.

Selain itu dia juga menegaskan bahwa konsep herd immunity dalam artian membiarkan virus menyebar tidak pernah dipakai dalam sejarah.

“Tidak pernah dalam sejarah kesehatan masyarakat, kekebalan kawanan digunakan sebagai strategi untuk menanggapi wabah, apalagi pandemi. Ini bermasalah secara ilmiah dan etika,” katanya.

Bahaya herd immunity 

Dia juga menjelaskan alasan tidak digunakannya konsep herd immunity dalam pandemi COvid-19.

Pertama, karena informasi mengenai kekebalan terhadap virus corona Covid-19 tidak cukup banyak atau belum diketahui utuh para ilmuwan.

“Pertama, kita tidak cukup tahu tentang kekebalan terhadap Covid-19,” ujar dia.

Selain itu, kebanyakan orang yang terinfeksi virus penyebab Covid-19 mengembangkan respons kekebalan dalam beberapa minggu pertama.

Tetapi pihaknya tidak tahu seberapa kuat atau bertahannya kekebalan itu atau bagaimana perbedaannya untuk orang yang berbeda.

Meskipun sudah ada beberapa petunjuk, tapi pihaknya tidak memiliki gambaran lengkap.

Kedua, sebagian besar orang tetap rentan terhadap virus ini. Sehingga bisa memicu banyaknya kasus kesakitan dan kematian. 

Dia mengatakan, survei seroprevalensi menunjukkan bahwa di sebagian besar negara, kurang dari 10 persen populasi telah terinfeksi virus Covid-19.

“Karena itu, membiarkan virus bersirkulasi tanpa terkendali berarti membiarkan infeksi, penderitaan, dan kematian yang tidak perlu,” ujarnya lagi.

Tedros menyebut, meskipun orang tua dan orang-orang dengan komorbid paling berisiko terhadap penyakit parah serta kematian, mereka bukan satu-satunya yang berisiko.

Dia mengatakan orang-orang dari segala usia dan kondisi juga telah meninggal.

Ketiga, pihak WHO baru mulai memahami dampak kesehatan jangka panjang di antara orang yang terinfeksi Covid-19.

“Saya telah bertemu dengan kelompok pasien yang menderita apa yang sekarang disebut sebagai “Long Covid” untuk memahami penderitaan dan kebutuhan mereka sehingga kami dapat memajukan penelitian dan rehabilitasi,” ungkapnya.

Sehingga, membiarkan virus berbahaya yang tidak sepenuhnya dipahami menyebar luas menurutnya bukan hal yang tidak etis.

Solusi WHO

Tedros mengatakan ada banyak negara yang telah berhasil mengendalikan penularan virus corona.

Menurut Tedros cara yang paling efektif sejauh ini antara lain temukan kasusnya, isolasi, lakukan tes, lacak (trace), rawat kasus, dan karantina.

“Inilah yang setiap hari terbukti berhasil di negara-negara,” kata Tedros.

WHO berharap negara-negara akan menggunakan intervensi yang ditargetkan di mana dan ketika dibutuhkan, berdasarkan situasi lokal.

“Kami sangat memahami rasa frustrasi yang dirasakan banyak orang, komunitas, dan pemerintah saat pandemi berlarut-larut, dan saat kasus meningkat lagi. Tidak ada jalan pintas, dan tidak ada peluru perak,” tuturnya.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Infografik: Ketentuan Soal Vaksinasi di Indonesia

#Herd #Immunity #Berbahaya #dan #Tidak #Etis #Ini #Solusi #Atasi #Pandemi

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts