Apa Itu Suara Elektoral? Angka Penentu dalam Hasil Pemilu AS

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Hari pemilihan atau election day untuk menentukan Presiden Amerika Serikat digelar pada Selasa (3/11/2020) waktu setempat.

Read More

Dua kandidat bersaing untuk memperebutkan suara elektoral terbanyak untuk menduduki kursi kepresidenan AS selama empat tahun mendatang.

Dilansir dari live count The Guardian, Kamis (4/11/2020) pukul 19.23 WIB, Joe Biden dari Partai Demokrat sementara ini unggul dibanding petahana Donald Trump dari Partai Republik.

Hasil pemilu AS sementara ini, Joe Biden memperoleh 238 suara elektoral, sedangkan Trump mendapat 213 suara. Kedua kandidat butuh 270 suara elektoral untuk memenangi Pemilu.

Apa itu suara elektoral?

Suara elektoral adalah jumlah suara yang dimiliki oleh setiap negara bagian AS. 

Jumlah suara ini berbeda-beda di setiap negara bagian tergantung dari kepadatan penduduknya. Total suara dari 50 seluruh negara bagian di AS adalah 538 suara.

Suara elektoral adalah penentu kemenangan dalam Pilpres AS. Dilansir dari AP News, Minggu (1/11/2020) untuk memenangi jalan menuju Gedung Putih, seorang kandidat Presiden harus memenangkan setidaknya 270 suara elektoral.

Setiap negara bagian diberikan jumlah suara elektoral yang berbeda, berdasarkan jumlah perwakilan yang dimilikinya di House of Representatives, ditambah dua senatornya.

Berikut adalah 10 negara bagian yang memiliki suara elektoral terbanyak:

  1. California: 55 suara
  2. Texas: 38 suara
  3. New York: 29 suara
  4. Florida: 29 suara
  5. Illinois: 20 suara
  6. Pennsylvania: 20 suara
  7. Ohio: 20 suara
  8. Georgia: 20 suara
  9. Michigan: 20 suara
  10. Carolina Utara: 20 suara

Suara elektoral berasal dari popular vote atau suara coblosan rakyat langsung di negara-negara bagian AS.

Selain itu juga diberlakukan sistem “the winner take all” atau pemenang bisa mengambil semuanya.

Sehingga kemenangan tipis saja dalam popular vote di sebuah negara bagian dapat mengamankan seluruh suara elektoral negara tersebut.

Di sisi lain, calon yang kalah tidak akan mendapatkan suara elektoral dari negara bagian tempat si calon kalah, meski kekalahannya tipis.

Kapan sistem ini berlaku?

Dilansir dari AP News, 24 Oktober 2020, suara elektoral atau Electoral College dibentuk pada Konvensi Konstitusional pada tahun 1787.

Di era saat nasionalisme masih rendah dan persaingan di antara negara bagian cukup tinggi, ada kekhawatiran bahwa orang akan mendukung kandidat dari daerah mereka sendiri dan bahwa negara bagian besar dengan populasi yang lebih padat akan mendominasi pemungutan suara.

Akhirnya metode Electoral College dipilih sebagi jalan tengah antara mereka yang menginginkan pemilihan umum presiden secara langsung dan mereka yang lebih suka pemilihan presiden diputuskan oleh Kongres.

Lantas, apa yang dilakukan pemilih AS?

Dikutip , Senin (2/11/2020) ketika orang-orang Amerika Serikat pergi ke TPS, mereka sebenarnya memilih sekelompok pejabat yang akan menduduki Electoral College.

Kata “college” di sini bermakna sekelompok orang dengan tugas bersama. Orang-orang ini disebut electors, dan tugasnya adalah memilih presiden serta wakil presiden.

Amerika memberikan suara berdasarkan negara bagian di electoral college, bukan dengan suara populer. Setiap negara bagian bernilai sejumlah pemilih yang kemudian berkumpul di “electoral college”.

Namun, pola pemungutan suara dan demografis yang berubah-ubah memungkinkan kandidat Presiden untuk kehilangan suara populer tetapi justru memenangkan suara elektoral atau Electoral College.

Kasus tersebut pernah terjadi dalam Pemilu sebelumnya, Trump melakukan ini pada 2016 dan George W Bush melakukannya pada 2000.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Infografik: Sistem Pemilihan Presiden di Amerika Serikat

#Apa #Itu #Suara #Elektoral #Angka #Penentu #dalam #Hasil #Pemilu

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts