Kuota Belum Terpenuhi, DKI Jakarta Akan Buka Rekrutmen Tahap II Pelacak Kontak Kasus Covid-19

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah selesai melakukan rekrutmen untuk tambahan tenaga pelacak kontak kasus Covid-19. Namun, kuota yang dibutuhkan belum terpenuhi sehingga akan dibuka lagi rekrutmen tahap dua.

Read More

Semula, Dinkes DKI menargetkan merekrut 1.545 pelacak kontak. Namun, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Dwi Oktavia Handayani menyebutkan, baru 1.200 pelamar yang memenuhi syarat administrasi.

“Hanya 1200-an yang memenuhi syarat administrasi dan lanjut tes tertulis. Jadi belum (memenuhi kuota),” kata Dwi kepada Kompas.com, Jumat (6/11/2020).

Dwi menilai waktu rekrutmen yang hanya berlangsung selama dua hari membuat jumlah pelamar minim.

Ia mengatakan, sebenarnya ada 2.400 orang yang telah mendaftar secara online. Namun banyak yang tidak memenuhi syarat administrasi.

Misalnya banyak pelamar yang tidak berdomisili di DKI Jakarta. Selain itu, banyak juga yang tak memenuhi syarat dari segi pendidikan, yakni minimal DIII pendidikan kesehatan.

Oleh karena itu, Dinkes membuka berencana melakukan rekrutmen tahap kedua. Namun Dinkes akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Satgas Penanganan Covid-19 di tingkat Pusat.

“Nanti kita akan rapatkan besama dengan pusat,” katanya.

Jika sudah ada keputusan, maka rekrutmen tahap II akan diumumkan secara resmi di akun media sosial Dinkes DKI. 

Relawan pelacak kontak yang terpilih nantinya akan ditempatkan di Puskesmas wilayah Jakarta. Relawan akan mendapatkan insentif Rp 300.000 per hari.

Anies Baswedan sebelumnya mengemukan, rekrutmen ini bertujuan untuk meningkatkan pelacakan kontak Covid-19 di Ibu Kota. Dia berharap rasio antara orang terpapar dan mereka yang dilacak dapat lebih meningkat.

Hingga saat ini, Anies mengeklaim rasio pelacakan kontak di DKI Jakarta adalah 1:8. Itu artinya, pada satu kasus Covid-19, ada 8 orang terdekat yang terdeteksi pernah berinteraksi.

“Kami perbanyak supaya rasio antara orang terpapar dan yang di-trace bisa lebih meningkat,” ujar Anies.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai rasio pelacakan kontak di Jakarta masih rendah. Sebab, jika mengikuti standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), minimum rasio pelacakan kontak adalah 1:25.

#Kuota #Belum #Terpenuhi #DKI #Jakarta #Akan #Buka #Rekrutmen #Tahap #Pelacak #Kontak #Kasus #Covid19

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts