Melihat Kapasitas Output Nikel dan Kobalt Indonesia

  • Whatsapp
nikel dan kobalt Indonesia
nikel dan kobalt Indonesia

Berlimpahnya bahan baku baterai listrik yaitu nikel (Ni) dan kobalt (Co) di Indonesia, membuat dunia tergiur dengan kekayaan tersebut. Namun, larangan ekspor bijih nikel lewat UU No.4 Tahun 2019 membuat mereka tak berdaya. Sesuai pasal 103 dalam UU tersebut, pengolahan dan pemurnian hasil tambang wajib dilakukan di Indonesia. Siapapun yang ingin mendapatkan nikel kita, otomatis harus membelinya dalam produk jadi, bukan mentah.

Berdasarkan publikasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam booklet Tambang Tanah Jarang 2020 memaparkan, Indonesia memiliki cadangan terbukti bijih nikel limonit sebesar 359 juta ton. Saat ini, proses pendirian pabrik pengolahan atau pemurnian bijih nikel laterit proses hidrometalurgi dengan kapasitas input total sebesar 29,2 juta ton per tahun.

Read More

Selain itu, publikasi yang diterbitkan pada September 2020 tersebut juga menerangkan bahwa produk logam tanah jarang dan scandium didapatkan dari produk samping olahan HPAL (high pressure acid leaching) nikel-kobalt.

Di Indonesia sendiri, sudah berdiri beberapa pabrik besar yang bisa mengolah dan memurnikan bijih nikel murni dan kobalt. Seberapa banyak nikel dan kobalt yang dihasilkan oleh mereka? Hingga kini, terdapat enam perusahaan Indonesia yang dapat mengolah bijih nikel laterit dengan proses hidrometalurgi, untuk menghasilkan nikel dan kobalt serta mengekstrak scandium.

Berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Morowali, Sulawesi Tengah, PT Huayue Bahodopi memiliki kapasitas input bijih nikel 11 juta ton pertahun dan menghasilkan nikel sebanyak 60.000 ton dan kobalt 7.800 ton. Selain itu, PT QMB Bahodopi memiliki kapasitas input bijih nikel 5  juta ton pertahun dan menghasilkan nikel sebanyak 50.000 ton dan kobalt 4.000 ton. 

Beralih dari Morowali, PT Halmahera Persada Lygen terletak di Halmahera Selatan memiliki kapasitas input bijih nikel 5,2 juta ton pertahun dan menghasilkan nikel sebanyak 55.000 ton dan kobalt 6.500 ton. 

Keempat, ada PT Smelter Nikel Indonesia yang berlokasi di Banten memiliki kapasitas input bijih nikel 2,4 juta ton pertahun dan menghasilkan per tahunnya nikel sebanyak 30.400 ton dan kobalt 3.060 ton.

Kelima, dari Konawe Utara ada PT Andhika Cipta Mulia yang memiliki input bijih nikel 2,4 juta ton pertahun dan menghasilkan nikel sebanyak 30.400 ton dan kobalt 3.060 ton. Dan yang terakhir, PT Vale Indonesia. Vale memiliki kapasitas input bijih nikel 3,2 juta ton per tahun serta menghasilkan nikel sebanyak 40.000 ton dan kobalt 6.000 ton.

Dua diantara enam perusahaan berasal dari Morowali, bisa jadi kedepannya wilayah tersebut menjadi lokasi pabrik kendaraan listrik terbesar di dunia.

Analis ED&F Man Capital Markets, Edward Meir mengungkapkan bahwa nikel dan tembaga menjadi salah satu logam dasar yang mendapatkan keuntungan paling banyak di tengah prospek pemulihan kondisi makro ekonomi global saat ini dan perkembangan ekonomi “hijau”.

“Nikel dan tembaga adalah salah satu komoditas yang paling dimanfaatkan dari prospek makro saat ini, dan belum lagi secara jangka panjang harga nikel sangat didukung oleh penggunaannya sebagai baterai kendaraan listrik,” ujar Meir dikutip dari Bloomberg.

Related posts