Mengenang Angkatan ’45: Sayidiman Suryohadiprojo… Halaman all

  • Whatsapp

SAYA mendengar kabar pada Rabu (30/12/2020) via grup WhatsApp bahwa Pak Sayidiman Suryohadiprojo dirawat di CICU RSPAD Gatot Soebroto.

Read More

Kemudian, pada Sabtu (16/01/2021) kembali saya mendapat kabar via grup WhatsApp, Pak Sayidiman telah berpulang pada Sabtu (16/01/2021) pukul 16.15 di RSPAD dalam usia 93 tahun. Innalillahi wainnaillaihi roji’un.

Kita telah kehilangan lagi seorang veteran Angkatan ’45, yaitu Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo. Semua jasa-jasa pada bangsa dan negara tetap kita kenang.

Saya jadi teringat kembali terakhir saya berkomunikasi dengan Pak Sayidiman pada tanggal 13 Agustus 2020 via WhatsApp.

Pada saat itu memang menjelang HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, dan saya ingat bahwa Pak Sayidiman adalah salah seorang veteran Angkatan ’45 yang masih ada.

Melalui WhatsApp saya bertanya: Selaku Angkatan ’45 yang masih ada, apa harapan Bapak terhadap Indonesia ke depan?

Pak Sayidiman kemudian menjawab:

“Harapan saya semoga NKRI selamat mengatasi berbagai kegawatan yang sekarang dihadapi dan selambat-lambatnya pada tahun 2045 ketika NKRI berusia 100 tahun berada di bumi Nusantara satu negara RI yang maju, adil sejahtera berdasarkan Pancasila, meliputi ratusan juta rakyat yang sejahtera secara adil merata.

Untuk itu marilah kita kalahkan berbagai sumber kegawatan yang sedang mengganggu bangsa kita. Kita atasi gangguan pandemi Covid-19 serta berbagai keadaan ekonomi, politik, dan sosial yang disebabkan Covid-19 itu.

Kita atasi gangguan pihak khilafah yang terus berusaha mengganti Pancasila, kita perkuat diri hadapi segala kemungkinan yang terbawa ambisi China menjadi negara nomor satu di dunia, kita atasi berbagai gangguan pihak luar yg hendak ambil untung dari potensi kekayaan alam Nusantara, siap waspada hadapi berbagai kondisi alam.

Untuk itu semua mari kita kembangkan perjuangan bangsa dengan jiwa dan semangat tak kenal menyerah, tak pernah putus asa karena yakin akan kemurahan Tuhan yang Maha Kuasa.

Mari kita berjuang khususnya kaum muda, dan tak pernah putus asa karena itu akibatkan kekalahan dan kepunahan! For a fighting nation there is no journey’s end! Hidup NKRI! hidup Pancasila!”

Kemudian saya bertanya lagi: Angkatan ‘45 yg masih ada, selain Bapak, siapa lagi/?

Jawab beliau: Pak Rais Abin, Pak Widjojo Soejono.

Berarti hingga hari ini masih ada pejuang Angkatan ’45 yang masih bersama kita, yaitu Letjen TNI (Purn) Rais Abin (94 tahun) dan Jenderal TNI (Purn) Widjojo Soejono (94 tahun).

Pertama kali mengenal Pak Sayidiman ketika saya mengedit buku beliau yang berjudul Mengobarkan Kembali Api Pancasila (Penerbit Buku Kompas, 2014) dan buku Budaya Gotong Royong dan Masa Depan Bangsa (Penerbit Buku Kompas, 2016).

Sejak saat itulah saya beberapa kali berdiskusi dengan beliau secara langsung di rumahnya di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ketika bertemu, Pak Sayidiman memberi buku biografi berjudul Sayidiman Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI: Sebuah Otobiografi.

Beliau juga menunjukkan buku-buku lain hasil karyanya, baik yang sudah diterbitkan penerbit lain maupun buku kumpulan tulisan yang dicetak terbatas. Kumpulan tulisan itu ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan berbagai tema.

Kegemaran beliau dalam tulis-menulis ini memang sudah sejak muda, buku hasil karya lainnya di antaranya buku Taktik dan Tehnik Infanteri, Masalah Pertahanan Negara, Langkah-Langkah Perdjoeangan Kita, Belajar dari Jepang, dan sebagainya.

Buku yang telah ditulisnya hingga saat ini sudah sekitar 13 judul.

Memperhatikan purnawirawan TNI yang mengisi waktunya dengan aktif menulis, saya jadi teringat Jenderal TNI (Purn) A.H. Nasution (almarhum) dan Letjen TNI (Purn) TB Simatupang (almarhum) yang juga aktif menulis buku pada zamannya.

Sekarang ini saya mengenal juga purnawirawan TNI lainnya yang juga rajin menulis, yaitu Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim dan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri yang telah menulis buku yang kebanyakan diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Pak Sayidiman mengakui kalau menulis umumnya tulisannya panjang-panjang karena bahan yang ditulisnya sangat padat. Beliau juga bercerita, apabila tengah malam mendapat ide, tanpa menunda-nunda lagi segera langsung menuju meja kerja untuk menuliskan ide tersebut.

Menariknya, apabila ditanya seputar perang kemerdekaan, maka Pak Sayidiman akan bercerita penuh semangat. Jiwa juangnya seketika muncul. Ia menceritakan keikutsertaannya semasa long march (perjalanan panjang) pasukan Siliwangi tahun 1948 dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.

Kebetulan pada tahun 1948 tersebut, Pak Sayidiman sebagai taruna Akademi Militer Yogya, yang baru saja dilantik oleh Presiden Sukarno menjadi Letnan Dua TNI-AD.

Pak Sayidiman menceritakan seluruh prajurit dan keluarganya yang ikut long march benar-benar mengalami penderitaan luar biasa.

Para prajurit yang sudah berkeluarga terpaksa membawa serta istri dan anak-anaknya, karena mereka tidak mau ditinggal, ingin kembali ke kampung halaman di Jawa Barat.

Selama perjalanan jauh inilah mereka dilanda kelaparan, sakit penyakit, kehujanan atau kepanasan, terkadang diserang pasukan Belanda yang melihat rombongan ini. Perjalanan jauh sepanjang 600 kilometer ini menyisakan penderitaan yang sangat panjang dan tidak pernah terlupakan.

Kalau ditanya siapa saja teman seperjuangannya, hebatnya Pak Sayidiman masih ingat nama-namanya. Kemudian beliau menambahkan, menuju Indonesia merdeka waktu itu memang melalui dua jalur, yaitu perjuangan revolusi fisik dan perjuangan diplomasi.

Perjuangan fisik bertempur di medan laga termasuk gerilya, yang mempertaruhkan jiwa raga. Kemudian perjuangan diplomasi beradu argumentasi di meja perundingan.

Seluruh tujuan perjuangan revolusi fisik dan diplomasi tersebut tujuannya agar kemerdekaan Indonesia diakui secara de facto dan de jure.

Sekali lagi, selamat jalan Pak Sayidiman di peristirahatan terakhir.

#Mengenang #Angkatan #Sayidiman #Suryohadiprojo #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts