Ekonomi RI Kuartal IV-2020 Diproyeksi Minus 2,9 Persen, Ini Penyebabnya Halaman all

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk, Adrian Panggabean memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020 masih mengalami kontraksi -2,9 persen (year on year/yoy).

Read More

Alhasil, kontraksi ekonomi di keseluruhan tahun 2020 diperkirakan mencapai -2,3 persen (yoy).

“Saya memperkirakan ekonomi Indonesia di kuartal IV 2020 telah terkontraksi sebesar -2,9 persen (yoy). Estimasi ini lebih rendah dibanding proyeksi saya sebelumnya, yaitu -2,3 persen yoy,” kata Adrian dalam laporannya, Senin (18/1/2021).

Adrian menuturkan, terkontraksinya ekonomi hingga hampir 3 persen itu disebabkan oleh permintaan dan penawaran ternyata masih di titik rendah, bahkan sampai di penghujung tahun 2020.

Lemahnya permintaan direfleksikan oleh angka imflasi. Inflasi inti (core inflation) secara rerata tahunan (year-average) hanya mencapai 1,6 persen.

“Hal ini menunjukkan masih berlanjutnya kontraksi ekonomi sampai akhir tahun 2020,” ungkap Adrian.

Adrian menyebut, ada beragam penyebab yang membuat keseimbangan sisi penawaran dan permintaan masih rendah. Faktor utamanya terletak pada terus terkontraksinya sisi penawaran.

Salah satu yang menjadi refleksi adalah rendahnya mobilitas faktor produksi. Mobilitas penduduk intra-kota di kuartal IV 2020 tidak berubah banyak dibanding kuartal III 2020. Gambaran mobilitas antar-kota pun mirip dengan kondisi di kuartal III 2020.

“Hanya mobilitas kargo yang nampaknya sudah bergerak naik di kuartal IV 2020,” jelasnya.

Lebih lanjut, mobilitas modal pun masih tertekan. Terlihat gap yang sangat besar antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

“Angka money velocity, yang dalam estimasi kasar saya masih rendah, mengkonfirmasi masih tertekannya aktivitas intermediasi finansial. Sebagai catatan, arus Foreign Direct Investment pun terpantau masih rendah di kuartal IV 2020,” sebutnya.

Hilangnya momentum konsumsi masyarakat

Adrian mengemukakan, konsumsi rumah tangga kehilangan momentum pada kuartal IV 2020, meski di kuartal III 2020 sempat terbantu oleh injeksi bantuan sosial.

Rerata kontraksi indeks perdagangan ritel di kuartal IV 2020 bahkan lebih buruk dibanding kuartal III 2020.

Sementara terkait angka kemiskinan, pihaknya masih menunggu survei dan data kemiskinan resmi dari lembaga terkait. Namun secara dinamika di lapangan, ada indikasi cukup kuat bahwa angka kemiskinan naik tajam.

“Turunnya momentum konsumsi rumah tangga juga dipengaruhi oleh hilangnya lapangan pekerjaan di banyak sektor. Sebagai akibatnya, kontraksi dalam tingkat konsumsi masyarakat terus berlanjut di kuartal IV 2020,” papar dia.

Kemudian, investasi masih terkontraksi. Di sisi permintaan, data penjualan mobil, motor, mesin, dan aktivitas konstruksi di kuartal IV 2020 masih jauh di bawah tingkat penjualan di kuartal IV 2019.

Stok inventori memang terlihat mulai naik di kuartal IV 2020, nampak dalam angka impor mesin dan bahan baku. Namun observasi lapangan mengindikasikan, kenaikan inventori lebih disebabkan oleh kebutuhan mengisi ulang stok barang dan bahan bakunya yang telah menipis.

“Secara keseluruhan, tahun 2020 masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang kesemuanya berimplikasi pada (a) kinerja ekonomi di tahun 2021 dan 2022, serta (b) kebijakan antisipasi lanjutan yang perlu dirumuskan,” pungkasnya.

#Ekonomi #Kuartal #IV2020 #Diproyeksi #Persen #Ini #Penyebabnya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts