Ini Daftar Uang Rupiah Belum Dipotong yang Beredar Halaman all

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Bank Indonesia pernah beberapa kali menerbitkan pecahan uang kertas bersambung atau uncute notes. Uang rupiah khusus ini dicetak dengan beragam pecahan mulai Rp 2.000 hingga Rp 100.000.

Read More

Uang itu dicetak dengan jumlah terbatas. Setiap lembarnya dilengkapi sertifikat keaslian dari Bank Indonesia, serta dikemas dengan menarik sehingga sering dijadikan sebagai koleksi ataupun souvenir.

Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, masing-masing cetakan memiliki ciri-ciri berbeda. Begitu juga mengenai jumlah bilyet yang tersambung dalam satu cetakan dari masing-masing pecahan berkisar antara dua hingga empat bilyet.

Pecahan Rp 2.000 bersambung

Uang kertas bersambung pecahan Rp 2.000 meliputi dua jenis cetakan, yakni menggunakan empat bilyet dan dua bilyet. Keduanya diterbitkan pada tanggal 10 Juli 2009 dengan corak yang didominasi warna abu-abu.

Bagian depan uang ini bergambar Pangeran Antasari, yakni sosok pemimpin tertinggi di Kesultanan Banjar. Dalam sejarahnya, Pangeran Antasari bersama pasukannya dengan gagah berani menghadapi pasukan Belanda yang pada saat itu telah memiliki persenjataan modern.

Setelah bertahun-tahun berperang, Pangeran Antasari akhirnya wafat ditengah-tengah pasukannya karena penyakit yang dideritanya. Dalam perjuangannya, ia tidak pernah menyerah ataupun tertipu oleh bujuk rayu pihak Belanda.

Adapun bagian belakang pecahan ini terdapat gambar tarian adat Dayak. Salah satu tarian adat Dayak yang terkenal adalah tarian Kancet Datun Julut.

Bank Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah khusus pecahan Rp 2.000 Tahun Emisi 2009 dalam bentuk empat bilyet yang belum dipotong, dicetak sebanyak 1.600 lembar. Sedangkan yang dalam bentuk dua bilyet belum dipotong, dicetak sebanyak 3.000 lembar.

Pecahan Rp 10.000 bersambung

Uang pecahan Rp 10.000 yang belum dipotong terdiri dari dua bilyet dan empat bilyet dalam satu cetakan. Keduanya diterbitkan bersamaan pada 18 Oktober 2005, dengan corak yang didominasi warna ungu.

Gambar depan uang ini menampilkan sosok Sultan Mahmud Badaruddin II, yang merupakan Sultan ke-8 dari Kesultanan Palembang. Sedangkan pada bagian belakang, terdapat gambar Rumah Limas dari Palembang, Sumatera Selatan.

Rumah adat Sumatera Selatan ini memiliki bentuk atap menyerupai limas persegi empat serta ornamen simbar dan tanduk pada bagian atas atap. Untuk keperluan keluarga, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas.

Bank Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah khusus pecahan Rp10.000 Tahun Emisi 2005 dalam bentuk dua bilyet yang belum dipotong, dicetak sebanyak 1.700 lembar. Sedangkan pecahan berbentuk empat bilyet yang belum dipotong, dicetak sebanyak 900 lembar.

Pecahan Rp 20.000 bersambung

Uang kertas bersambung pecahan Rp 20.000 meliputi cetakan dua bilyet dan empat bilyet. Keduanya merupakan uang dengan Tahun Emisi 2004.

Pecahan Rp 20.000 dalam bentuk dua bilyet yang belum dipotong, dicetak sebanyak 5.000 lembar. Sedangkan untuk bentuk empat bilyet yang belum dipotong, dicetak sebanyak 5.000 lembar. Keduanya terbit pada 28 Desember 2004.

Bagian depan uang ini terdapat gambar pahlawan nasional Oto Iskandar Di Nata. Ia merupakan sosok yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, yang dikenal dengan julukan Si Jalak Harupat karena keberaniannya melawan penjajah. Nama ini juga disematkan untuk nama stadion di kota kembang, Stadion Si Jalak Harupat, yang menjadi markas klub kebanggaan masyarakat Sunda, Persib Bandung.

Adapun pada bagian belakang, terdapat gambar dua orang pemetik daun teh yang sedang bekerja di perkebunan. Perkebunan teh banyak dijumpai di Indonesia, terutama di daerah Jawa Barat. Kualitas teh dari perkebunan ini telah diakui dan terkenal hingga ke mancanegara.

Pecahan Rp 50.000 bersambung

Uang kertas bersambung Rp 50.000 terdiri dari dua bilyet dan empat bilyet. Keduanya diterbitkan pada 18 Oktober 2005 dengan corak yang didominasi warna biru.

Bagian depann uang ini bergambar I Gusti Ngurah Rai yakni pahlawan dari Bali yang terkenal dengan Perang Puputan Margarana. Sedangkan di bagian belakang, terdapat gambar Danau Beratan di Bedugul, Bali.

Bank Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah khusus pecahan Rp 50.000 Tahun Emisi 2005 dalam bentuk dua bilyet yang belum dipotong, dicetak sebanyak 1.100 lembar. Adapun yang empat bilyet terdapat 700 lembar.

Pecahan Rp 100.000 bersambung

Berbeda dengan pecahan lainnya, uang bersambung pecahan Rp 100.000 pernah diedarkan dengan empat cetakan berbeda. Masing-masing cetakan diedarkan sebanyak 5.000 lembar.

Dua di antaranya diterbitkan pada 28 Desember 2004, yakni cetakan Rp 100.000 bersambung dua bilyet dan empat bilyet dengan tahun emisi 2004. Adapun dua lainnya diterbitkan pada 17 Agustus 2014, dengan nominal yang sama namun tahun emisinya 2014.

Keempatnya merupakan uang yang didominasi warna merah. Bagian depan uang ini bergambar Soekarno-Hatta yang merupakan tokoh proklamator Indonesia. Sedangkan bagian belakang terdapat gambar Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR).

#Ini #Daftar #Uang #Rupiah #Belum #Dipotong #yang #Beredar #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts