Alasan Ng Man-tat “Paman Boboho” Dekat dengan Penonton Film 90-an Halaman all

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Kabar meninggalnya aktor veteran asal Hong Kong, Ng Man Tat, membawa duka buat, termasuk bagi masyarakat Indonesia.

Read More

Seperti diberitakan Kompas.com, Sabtu (27/2/2021), aktor yang juga dikenal Wu Mengda itu meninggal dunia pada Sabtu (27/2/2021) pukul 17.16 waktu setempat.

Ng Man-tat wafat pada usia 70 tahun setelah menderita kanker hati.

Banyak yang mengenang sosok Ng Man Tat karena selama ini telah memberi hiburan lewat peran kocaknya dalam banyak film. 

Terutama saat menjadi sosok paman biksu kecil Boboho dan kawan Stephen Chow yang melekat di hati penonton Indonesia.

Sutradara Timo Tjahjanto turut mengucapkan dukanya lewat media sosial Twitter. Lewat tulisan singkat, Timo juga mengunggah foto Paman Tat yang diambil dari adegan salah satu filmnya.

Karya-karya Paman Tat memang sangat dekat dengan anak-anak generasi 90-an di Indonesia.
Meninggalnya Ng Man Tat juga menjadi duka mendalam buat mereka yang besar dengan film-film komedi Hong Kong di era itu.

Akun @Generasi90an di Twitter turut mengucapkan selamat jalan atas kepergian sang aktor.

Lantas, mengapa Ng Man Tat seperti mendapat tempat tersendiri di tengah masyarakat Indonesia?

 

Tempat khusus

screenshoot Ng Man-tat bersama Stephen Chow dalam film Fight Back to School

Pengamat film Hikmat Darmawan juga mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya Ng Man Tat.

Kata Hikmat, Tat memang mempunyai tempat khusus di mata penikmat film Tanah Air karena kekerapannya muncul membintangi sejumlah film.

“Ng Man Tat itu memang punya tempat khusus, dari segi kekerapan dia muncul juga menyebabkan dia sangat karib wajahnya dengan penonton Indonesia pada periode tertentu,” tutur Hikmat saat dihubungi Kompas.com, Minggu (28/2/2021).

Terutama, saat banyaknya film yang dibintangi Tat bersama dengan Stephen Chow dan Boboho menghiasi dunia pertelevisian dan perfilman Indonesia pada era 1990-an.

“Jadi mereka yang menonton film dan mengalami pertumbuhan masa remaja pada tahun 1990-an sampai awal 2000, itu memang sangat akrab dengan Ng Man Tat,” imbuh Hikmat.

Menurut pria yang juga Anggota Komite Film Dewan Kesenian Jakarta itu, film-film Hong Kong memang banyak diputar di biokop dan di televisi swasta Indonesia pada era tersebut.

Sehingga, tak aneh rasanya jika banyak warganet yang merasa kehilangan sosok Ng Man Tat.

“Memang jadi konsumsi banyak orang tuh film-filmnya. Misalnya Boboho terutama, itu sangat laris di televisi, film-film Stephen Chow laris di bioskop dan televisi. Waktu itu kita juga banyak sekali video dan VCD bajakan,” tuturnya.

Seperti menonton Srimulat

Selain itu Hikmat menilai, wajah Ng Man Tat juga sangat mirip dengan wajah orang Indonesia pada umumnya.

Di luar itu, sebagai aktor Ng Man Tat juga selalu totalitas saat menjalani perannya.

“Dia praktis mau menempatkan diri apa aja kalau sudah humor, misal pakai pakaian bayi, pakai pakaian gembel atau apapun,” kata Hikmat.

Ia menilai, wajah Ng Man Tat juga cukup lentur dalam konteks komedi.

 

Apabila menonton film yang dibintangi Ng Man Tat, kata Hikmat, sama seperti halnya menonton Srimulat.

“Jadi kita kayak ngelihat Srimulat sih sebetulnya . Ya itu sih saya kira kenapa sosok Ng Man Tat seakan tertanam di Indonesia,” terang Hikmat.

Akan tetapi, entah mengapa sejak era 2000-an, film-film China tidak banyak muncul di bioskop dan televisi Indonesia.

Ng Man Tat sendiri, kata Hikmat, juga sempat bermain film di genre yang serius.

“Di samping bermain bersama di film-film Stephen Chow, hanya Shaolin Soccer ya yang sangat fenomenal itu memang,” tutupnya.


#Alasan #Mantat #Paman #Boboho #Dekat #dengan #Penonton #Film #90an #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts