6 Produk Lokal yang Dikira Merek Luar Negeri Halaman all

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Media sosial baru-baru ini diramaikan dengan unggahan warganet yang berisi gambar sejumlah merek produk lokal yang memiliki nama asing.

Read More

Sebaliknya, unggahan itu juga menampilkan merek asing yang justru bernama lokal.

Salah satu di antaranya adalah unggahan dari akun @unakami09, Minggu (14/3/2021).

“Jangan salah menilai produk lokal dan luar. Banyak yg salah kaprah dulu, contoh ngira hokben, jco, eiger itu produk luar, tapi ternyata itu produk lokal. Kita harus bangga dong, punya mereka #mendinglokalaja,” tulis akun itu.

Sejumlah merek lokal yang disebutkan di antaranya ada Polytron, Polygon, Eiger hingga Hokben.


Benarkah produk yang dimaksud dalam unggahan itu benar-benar produk lokal?

1. Polytron

Diberitakan Kompas.com, 5 Juni 2018, Polytron merupakan salah satu merek produk elektronik asli Indonesia yang mampu bersaing dengan merek global.

Semua pembuatan, pengembangan, perakitan, hingga desain produk dilakukan perusahaan itu di Kudus, Jawa Tengah.

Saat ini, Polytron memiliki 3 lokasi pabrik yang berlokasi di Jawa Tengah, dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 10.000 karyawan dan total area pabrik seluas 69 hektare.

Pabrik pertama berlokasi di Desa Krapyak, Kudus dengan luas 109.000 m2.

Pabrik ini khusus memproduksi TV, Handphone, AC, Audio, Dispenser, dan DVD Player.

Pabrik kedua, berlokasi di wilayah Sidorekso, Kudus dengan luas 130.000 m2 dan hanya memroduksi speaker.

Sementara pabrik terakhir berlokasi di Sayung, Kudus dengan luas 450.000 m2. Di pabrik ini memproduksi kulkas dan mesin cuci.

2. Polygon

Bagi pencinta sepeda, tentu tak asing dengan merek Polygon. Merek satu ini merupakan produk asli Indonesia, tepatnya dari Sidoarjo, Jawa Timur.

Adalah Insera Sena yang mengembangkan produk itu sejak 1989 dan kini mampu merambah ke pasar internasional.

Polygon mulai mengekspor produknya pertama kali ke Singapura (1997) menyusul Malaysia (2000). Hal itu sebagaimana diberitakan Kompas.com, 8 Septermber 2014.

Kini Polygon telah terdistribusi di 500 outlet yang tersebar di 33 negara.

Bahkan, satuan polisi Kerajaan Thailand menggunakan Polygon sebagai kendaraan operasional.

3. Eiger

Eiger merupakan produk asli Indonesia yang diluncurkan pertama kali pada 1989 untuk memenuhi berbagai kebutuhan perlengkapan dan peralatan bagi gaya hidup para penggiat alam terbuka.

Melansir laman resminya, nama Eiger sendiri diambil dari nama gunung di Swiss, Gunung Eiger yang memiliki ketinggian 3.970 mdpl.

Diberitakan Kompas.com (29/1/2021), Eiger didirikan pada 1979 di Bandung, di bawah naungan PT Eigerindo Multi Produk Industry.

Produk alat-alat outdoor itu berkembang dari merek kecil dengan dua mesin jahit menjadi sebuah perusahaan industri outdoor & gaya hidup di Indonesia,

Melansir Harian Kompas (28/4/2014), bos Eiger Ronny Lukito menceritakan, mampu mengembangkan usaha toko tas milik ayahnya dari sebuah rumah kecil di Gang Tamrin Bandung menjadi produk ternama yang telah merambah dunia internasional.

Saat ini, ada tiga kategori produk utama, yaitu mountaineering, riding, dan authentic 1989.

4. J.Co

Tak banyak yang mengira jika J.Co merupakan produk asli Indonesia.

Kedai kopi dan donat itu pertama kali dibuka di Supermal Karawaci pada 2005.

Adalah Johny Andrean, penata rambut terkenal yang berada di balik kedai tersebut, dikutip dari Kompas.com, 13 Mei 2016.

Pada tahun-tahun pertama, Johny mengimpor biji kopi dari Italia. Ia mempercayai sebuah perusahaan roasting kecil di sana untuk mengirim sejumlah biji kopi ke Indonesia.

Karena lokasinya yang cukup jauh, pendistribusian memakan waktu 2 bulan. Bahkan tidak jarang biji kopi baru sampai di tangan bartender J.Co pada bulan ketiga.

Setelah bisa melakukan roasting biji kopi sendiri, Johny pun memutuskan untuk memilih kopi lokal dari Sumatera, Sulawesi, dan Jawa.

Le Minerale adalah produk air mineral yang berasal dari pegunungan dan diproduksi oleh PT Mayora.

Selain Teh Pucuk Harum, Mayora meluncurkan Le Minerale pada 2016. Hal itu sebagaimana diberitakan Kontan (7/11/2016).

Le Minerale disebutkan diproduksi di Pasuruan, Sukabumi, dan Makassar. Serta adanya penambahan pabrik baru di Palembang dan Cianjur.

PT Mayora Indah Tbk, melansir website resminya didirikan pada 1977 dengan pabrik pertama berlokasi di Tangerang dengan target wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Setelah dirasa mampu memenuhi pasar Indonesia, mereka menjadi perusahaan publik pada 1990 dan mulai melebarkan sayap dengan menyasar target konsumen Asean dan lebih luas di 5 benua di dunia.

6. Hokben

Hokben pertama kali berdiri pada 18 April 1985 dengan nama Hoka Hoka Bento. Gerai pertamanya berada di Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.

Diberitakan Kompas.com (30/7/2019), ia memiliki 153 gerai yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Semua gerai HokBen adalah cabang di bawah naungan PT Eka Bogainti.

Pada 2013, Hoka Hoka Bento berubah nama menjadi Hokben, lantaran dianggap lebih mudah disebut.

Awalnya pemilik HokBen membeli izin menggunakan merek dan asistensi teknik Hoka Hoka Bento dari Jepang. Namun, seiring berjalannya waktu, Hokben di Jepang sudah tidak ada lagi dan saat ini HokBen 100 persen produk Indonesia.

Makanan favorit HokBen dari awal berdiri adalah teriyaki, chiken katsu dan yakiniku.

Produk lain

Selain lima produk itu, beberapa produk bernama asing, tapi berasal dari Indonesia adalah Silver Queen, La Fonte, Terry Palmer, dan lain-lain.

(Sumber: Kompas.com/Arimbi Ramadhiani, Mutia Fauzia, Silvita Agmasari, | Editor: Erlangga Djumena, Hilda B Alexander, Sri Anindiati Nursastri)


#Produk #Lokal #yang #Dikira #Merek #Luar #Negeri #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts