Luhut Senang Perusahaan Thailand yang Tumpahkan Minyak di Laut RI Diganjar Rp 252 Juta Halaman all

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengadilan federal Australia di Sydney memenangkan gugatan 15 ribu petani rumput laut dan nelayan Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (19/3/2021).

Hakim Pengadilan Federal untuk kasus ini David Yates, dalam putusannya menyatakan, PTT Exploration and Production (PTTEP) tidak menyanggah bukti bahwa mereka telah lalai dalam operasinya di ladang minyak Montara.

Karenanya, Pengadilan menghukum perusahaan tersebut untuk memberi ganti rugi sebesar Rp 252 juta (22.500 dolar Australia) kepada penggugat utama dari gugatan kelompok (class action) tersebut.

Ia mengatakan bahwa tumpahan minyak di laut Indonesia menyebabkan kerugian secara material dan menyebabkan kematian serta rusaknya rumput laut yang menjadi mata pencaharian para petani.

PTTEP yang merupakan perusahaan asal Thailand, selaku tergugat menyatakan sedang mempertimbangkan untuk naik banding.

Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyambut baik putusan ini. Ia lantas menceritakan awal mula terjadinya kasus ini.

“Ini berawal dari pembentukan Satuan Tugas yang kami bentuk pada Agustus 2018,” kata Luhut dalam pernyataan resmi, Jumat (19/3/2021).

Ia menambahkan, Satgas yang saat itu dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim saat itu, Purbaya Yudhi Sadewa langsung bekerja untuk menyatukan pandangan pemerintah dan nelayan di Laut Timor yang menjadi korban tumpahan minyak tersebut.

“Kami mengumpulkan data dan bukti yang dibutuhkan agar kami punya dasar yang kuat di pengadilan. Setelah itu Satgas datang ke berdialog dengan otoritas terkait tentang kasus ini serta mendukung secara maksimal gugatan yang diajukan masyarakat NTT ke pengadilan federal Australia,” ujar Luhut.

Adapun data yang dikumpulkan Satgas untuk menjadi dasar tuntutan tersebut adalah data dari citra satelit LAPAN, data sampel minyak di Pulau Rote, data kualitas air serta data dari dampak kerugian sosial ekonomi yang ditanggung masyarakat di wilayah Timor Barat.

Satgas juga membantu koordinasi pengiriman ahli-ahli dari lembaga peneliti terkemuka di Indonesia untuk menjadi saksi di sidang pengadilan di Australia.

“Kasus ini amat penting untuk Indonesia. Kemenko Marves melakukan koordinasi secara maksimal untuk memastikan segala sumber daya yang ada untuk dijadikan dasar gugatan, agar masyarakat NTT menang di pengadilan Australia,” kata Purbaya.

Kasus ini berawal dari tumpahan minyak yang terjadi pada pada 21 Agustus 2009 saat anjungan minyak di lapangan Montara milik perusahaan asal Thailand, PTTEP, meledak di lepas landas kontinen Australia.

Tumpahan minyak dengan volume lebih dari 23 juta liter mengalir ke Laut Timor selama 74 hari. Tumpahan minyak itu juga berdampak hingga ke pesisir Indonesia. Luas tumpahan diperkirakan mencapai kurang lebih 92 ribu meter persegi.

Satgas menemukan ada 13 kabupaten di NTT yang terkena dampak dari kasus Montara. Ketua Yayasan Peduli Timor Barat Ferdi Tanone yang juga anggota Satgas mengaku sudah dihubungi oleh pengacara yang mewakili di Pengadilan siang tadi.

“Saya menyambut baik putusan pengadilan ini, selanjutnya kami sedang menunggu sikap dari PTTEP,” katanya.

#Luhut #Senang #Perusahaan #Thailand #yang #Tumpahkan #Minyak #Laut #Diganjar #Juta #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts