Menjawab Tantangan Kepemimpinan di Saat Pandemi

  • Whatsapp

PANDEMI menyerang dan semua sektor dituntut untuk berubah. Seperti itulah tren yang terjadi saat ini.

Banyak hal yang berubah ketika COVID-19 menyerang dan tak ada yang mengetahui kapan ini selesai. Apalagi muncul varian baru COVID-19 tentu membuat semua masyarakat waspada.

Menyadari fenomena tersebut, satu-satunya hal mutlak adalah bahwa perubahan adalah konstan

Lantas, apa artinya ini bagi pemimpin?

Praktik kepemimpinan saat ini dan sebelumnya pasti berbeda. Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan penerapan protokol kesehatan mengharuskan pemimpin mengadaptasi sebuah gaya baru dalam mengawal organisasi keluar dari situasi pelik.

Tentu, jika kita bandingkan praktek kepemimpinan sebelum COVID-19 dan saat ini, ada perbedaan dalam hal pola komunikasi dan cara kerja.

Digitalisasi jadi solusi utama

Lalu, yang menjadi salah satu dampak yang penulis rasa positif adalah digitalisasi dalam bekerja. Ken Wong, Presiden Lenovo di Asia Pasifik, dikutip dari infokomputer, mengatakan bahwa “Covid-19 menjadi katalis bagi banyak perusahaan untuk mempercepat transformasi digital”.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kata kuncinya di sini adalah transformasi digital. COVID-19 mendorong banyak organisasi untuk menerapkan cara kerja digital agar mampu bertahan. Seperti yang Charles Darwin katakan, yang bertahan hidup adalah yang mampu beradaptasi.

Satu contoh yang menjadi rujukan adalah masifnya telemedicine di Indonesia. Good Doctor, platform pelayanan kesehatan mencatat, transaksi layanan kesehatan jarak jauh meningkat delapan hingga 10 kali lipat atau 900 persen selama pandemi 2020.

Masyarakat tidak bisa berinteraksi dalam jarak dekat dan masih ada ketakutan apakah COVID-19 menulari mereka atau tidak. Sehingga, telemedicine menjadi opsi yang bisa menawarkan solusi di tengah pandemi. Masyarakat terlayani dengan baik dan dokter dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Ini pun juga selaras dengan pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2021 dari We Are Social dan Hootsuite, pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta, meningkat 27,2 juta dari tahun sebelumnya, yakni 175,4 juta.

Ini berarti, pandemi membuat masyarakat melakukan migrasi kegiatan dari dunia nyata ke dunia digital. Dan data ini menyimpulkan adanya kebutuhan teknologi yang besar. Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi-bisnis, ada potensi market yang besar yang bisa diubah menjadi keuntungan.

Hampir semua perusahaan saat pandemi mengubah pola komunikasinya di mana mereka membuka beberapa saluran komunikasi, baik itu digital maupun tradisional.

Perusahaan tersebut di satu sisi menerapkan digitalisasi, tetapi di sisi lain masih mempertahankan saluran komunikasi konvensional dengan para pelanggannya.

Artinya, COVID-19 juga memperluas saluran komunikasi bagi konsumen yang ingin digital dan mereka yang masih mau bertemu secara langsung. COVID-19 membuat perusahaan harus mampu menguasai segala lini saluran komunikasi.

Hal ini juga diadaptasi oleh ribuan perguruan tinggi diseluruh Indonesia, salah satunya adalah Institut Komunikasi dan Bisnis (London School of Public Relation – LSPR) yang berhasil mengadakan lebih dari 200 kegiatan online kemahasiswaan sepanjang tahun 2020 hingga 2021. Ini membuktikan pandemi tidak menghalangi produktivitas mahasiswa/i untuk terus produktif berkarya.

Pemimpin juga wajib menguasai beragam saluran komunikasi, khususnya di saluran digital. Boy Kelana Soebroto, Head of Corporate Communications Astra International Tbk, menyatakan bahwa di Astra mereka meningkatkan saluran komunikasi digital sebagai sarana komunikasi yang efektif.

Bahkan, Andy Saladdin dari SSS Communications mengatakan, lebih baik over communicated di masa ini agar semuanya berjalan lancar.

Tidak hanya soal saluran komunikasi semata, instruksi yang jelas juga perlu diutarakan agar anggota punya kejelasan terkait apa yang harus dilakukan.

Achmad Aditya dari Unilever Indonesia menambahkan bahwa karena anggota dituntut bekerja secara independen, pemimpin diharapkan memberikan kerangka besar umum dan tujuan akhirnya. Jika ini sudah jelas, maka tim dituntut untuk kreatif.

Menjadi peka terhadap kesulitan tim

Pandemi membuat perusahaan menerapkan cara kerja digital. Tetapi, tentu saja akan ada tantangan yang harus dipecahkan agar bekerja lebih optimal.

Tantangan pertama terletak pada tingkat adaptabilitas para pekerja. Berdasarkan laporan Microsoft Work Trend Index tahun 2021, pandemi justru membuat salah satu generasi yang tech-savvy, yakni gen Z berjuang keras.

Hal ini karena waktu kerja fleksibel yang justru dibarengi dengan beban kerja yang bertambah. Belum lagi, ketika bekerja di rumah, ada urusan rumah yang harus dikerjakan dan 37 persen pekerja dunia merasa perusahaan menuntut lebih banyak dari mereka.

Lalu, ada juga masalah kesehatan mental para pekerja yang perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan. Pada masa COVID-19, ada pegawai yang dirumahkan, di PHK, maupun diturunkan gajinya agar perusahaan tetap bertahan.

Terkait yang disebutkan terakhir, bagi pekerja, penurunan gaji berdampak pada kekhawatiran finansial. Survei yang dilakukan Jobstreet pada Agustus tahun 2020 lalu menemukan fakta itu. Sebesar 55 persen pekerja mengalami penurunan gaji. 66 persen mengalami rasa takut apakah mereka cukup secara finansial. 55 persen mengaku takut apakah mereka masih memiliki pekerjaan atau tidak.

Di satu sisi, kondisi ini sebenarnya bisa membuat pekerja mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.

Tetapi, jika melihat di sisi lain, hal itu bisa berarti adanya tuntutan lebih bagi pekerja. Kondisi ini berkontribusi terhadap penurunan kesehatan mental para pekerja.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena anggota yang memiliki permasalahan mental yang pelik akan sulit untuk fokus dalam pekerjaan. Alhasil, mereka bisa tidak membawa hasil yang baik dalam pekerjaan mereka.

Ada kekhawatiran yang disebutkan oleh CEO dari ModalRakyat, Wafa Taftazani. Dari perspektif pemimpin, dia mengatakan kalau risiko terbesar dari perspektif pemimpin adalah tone-deaf di mana pemimpin tidak peka terhadap kesulitan terhadap pribadi maupun tim.

Mereka justru menuntut pekerjaan di tengah terpaan kesulitan yang dialami oleh anggota-anggotanya.

Tantangan kedua terletak bagaimana cara berkomunikasi melalui saluran digital. Sistem kerja work from home berarti harus ada koordinasi secara intens, terlebih para pimpinan tidak bisa mengawasi secara langsung hasil pekerjaan anggotanya. Sehingga, ada tuntutan untuk terus berkoordinasi agar pekerjaan dilakukan dengan tepat.

Selain itu, karena komunikasi dilakukan secara virtual, banyak tumpukan informasi yang didapatkan dan menyulitkan anggota untuk menyaring informasi yang penting atau tidak.

Hal ini membuat anggota bisa mengalami misinformasi sehingga info penting tidak tersampaikan dengan baik.

Nyawa pekerjaan yang baik terletak pada sebaik apa setiap elemen dalam perusahaan berkomunikasi dan berkoordinasi. Jika itu tidak terlaksana dengan baik, maka hasil pekerjaan bisa tidak maksimal.

Kepemimpinan adaptif-inovatif

Digitalisasi berikut tantangannya memberikan pekerjaan rumah bagi pemimpin agar mampu menavigasi perusahaan di tengah ketidakpastiaan ini.

Tren ke depan, Perusahaan akan semakin mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik kerjanya.

Berdasarkan laporan dari Accenture Technology Vision 2021, 86 persen setuju bahwa organisasi mereka harus melatih anggotanya agar berpikir seperti seorang teknologis.

Artinya, akan ada perubahan pola pikir di seluruh elemen organisasi agar mereka mampu mengadopsi teknologi untuk cara kerja yang optimal.

Kuncinya disini adalah bagaimana pemimpin selalu adaptif terhadap perubahan. Kepekaan untuk mendeteksi variabel yang bisa mengubah lingkungan menjadi penting. Kepekaan tersebut akan mendorong pemimpin untuk membuat suatu inovasi agar tetap relevan dengan zaman.

Perusahaan yang tidak berinovasi tentu akan mengalami kejatuhan dan sudah banyak buktinya. Pemimpin wajib untuk terus belajar karena inovasi membutuhkan pengetahuan yang memadai.

Perusahaan kini berinovasi terhadap strategi perusahaan, salah satunya dengan menyediakan produk siap pakai. Bagaimana menghadirkan solusi yang customer-centric dan future-ready flexibility seputar hardware, software, maupun services. Alhasil, strategi tersebut berhasil menaikkan pendapatan bisnis mereka.

Pemimpin dan anggota saling membutuhkan

Lalu, selanjutnya, kepekaan yang dimaksud tidak hanya peka terhadap perubahan lingkungan, tetapi peka terhadap kondisi fisik dan mental anggota.

Pemimpin dan anggota memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Tanpa anggota, pemimpin tidak akan bisa berjalan jauh. Anggota berperan penting dalam menyokong visi dan misi pemimpin dan perusahaan secara umumnya.

Oleh karenanya, pemimpin perlu untuk menerapkan kebijakan anggota yang adil dan membuat anggota nyaman dan merasa diperhatikan kesejahteraan dan well-being oleh perusahaan.

Mahanugra Kinzana, CEO LP3I, dalam satu kesempatan mengatakan, LP3I telah melakukan beberapa penyesuaian terkait pola kerja tersebut.

Ia mengatakan bahwa praktik kepemimpinan inti di LP31 fokus pada memperhatikan manusia (human centric approach). Dia lebih lanjut menambahkan bahwa pada saat terjadi perubahan, LP3I membantu anggota untuk mengembangkan pola pikir digitalisasi.

Selain itu, Muhammad Fikri, Community Partnership Facebook mengatakan bahwa target harus disesuaikan dengan kondisi tim dan organisasi. Yang terpenting adalah kesehatan dan kewarasan setiap anggota.

Lebih lanjut, pemimpin saat ini juga wajib untuk cerdas secara emosional. Mengapa? Pertama, menavigasikan perubahan di saat ini sulit dan membutuhkan energi yang besar.

Kedua, saat ini semua orang sedang berjuang keluar dari krisis, sehingga titik emosi banyak orang sedang tinggi. Semua orang berusaha bertahan dalam situasi yang pelik ini.

Oleh karena itu, emosional para pemimpin wajib diatur sedemikian rupa dan mereka harus peka terhadap kondisi emosional anggotanya.

Ini yang disebut oleh CEO BRI Danareksa Sekuritas, Frederica Widyasari sebagai kepemimpinan empati. Menurutnya, kepemimpinan saat ini tepat diterapkan karena situasinya juga tidak normal. Ditambah, pemimpin dituntut untuk lebih partisipatif dan terbuka terhadap anggotanya.

Ketua Yayasan IBLAM School of Law, Rahmat Dwi Putranto pun menegaskan hal ini dan menambahkan bahwa pemimpin harus dekat dengan karyawannya. Jika pemimpin dan anggota saling bersinergi, maka masalah perusahaan bisa dipecahkan dengan lebih tepat.

Kunci kepemimpinan new normal

Kepemimpinan new normal akan menjawab tantangan pandemi dengan empat kata kunci berikut: digitalisasi, komunikasi omni channel, adaptabilitas, dan kepercayaan.

Bahwa di masa seperti ini, pola kepemimpinan yang diterapkan lebih kepada delegasi berbasis kepercayaan, mengaplikasikan tujuan jangka pendek, dan keputusan berbasis inovasi. Partisipasi anggota menjadi penting agar organisasi berjalan optimal.

Keempat hal tersebutlah yang akan menjadi poros dalam kepemimpinan new normal saat ini dan ke depannya. Situasi terus berubah dan adaptasi menjadi sebuah keharusan.

Dalam laporan Accenture Technology Vision 2021, 90 persen para eksekutif merasa bahwa dalam strategi pelatihan mereka, perlu dimasukkan manajemen data dan keamanan data. Sepenting itulah teknologi sekarang.

Komunikasi pun juga akan dilakukan dengan semua saluran yang tersedia. Terlebih, beberapa perusahaan telah menerapkan work-from-home secara permanen seperti Twitter. Inilah gaya kepemimpinan yang bisa diadopsi oleh leader saat ini.

#Menjawab #Tantangan #Kepemimpinan #Saat #Pandemi #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts