Benarkah Penguasa Mobil Listrik adalah Indonesia, Bukan Negara Lain?

  • Whatsapp
penguasa mobil listrik
penguasa mobil listrik

Apa yang ada di benak kamu, jika pada tahun 2025 nanti produk mobil listrik beserta rantai pasoknya rupanya diproduksi oleh salah satu daerah di Indonesia? Tentu bangga, kan? Lalu, bagaimana jika nantinya target produksi mobil listrik tersebut direncanakan dapat mendekati angka 20% total produksi dunia? Sudah dipastikan, Indonesia penguasa mobil listrik dan jadilah tersohor negeri kita!

Setelah berandai menjadikan Indonesia penguasa mobil listrik, sekarang mari kita pikirkan sisi lainnya. Pada tahun 2025 nanti akan ada lebih dari 100.000 orang dapat bekerja di salah satu daerah penghasil produk mobil listrik beserta rantai pasoknya tersebut, tentu ini kabar yang menggembirakan bagi masyarakat yang bercita-cita memiliki bangsa yang besar!

Read More

Lantas, bagaimana bila di antara 100.000 orang tenaga kerja tersebut, sebanyak 15.000 orang adalah tenaga kerja asing dan kebanyakan dari Tiongkok? Kenyataan di lapangan, masyarakat dengan spontan menjawab menolak hingga berani melabeli agenda PKI. Tentu ini menjadi hal yang aneh karena segalanya disapu rata tanpa melihat lebih dalam maksudnya. 

Analogi sederhana dapat diterapkan seperti ini,

“Jika ingin membuka bengkel service motor di kampung sebelah, syarat diminta adalah 100% pekerjanya harus warga kampung tersebut. Ketika ditanya adakah mereka sebagai calon pekerja dari kampung tersebut paham bagaimana melakukan service motor, jawabannya tidak,”

Nah, bagaimana mungkin sebuah bengkel tidak bisa melakukan service padahal harus menerima pelanggan? Jawabannya hanya ada satu, harus menyediakan tenaga kerja berpengalaman yang siap bekerja sekaligus memberi transfer pengetahuan. Dengan mendatangkan tenaga ahli, ada proses transformasi informasi dan keahlian di sana. Pekerja yang tadinya tidak mengetahui, bisa menjadi handal. Tentu ini menjadi keuntungan bagi pekerja sekaligus warga Indonesia karena mendapatkan ilmu dari pekerja handal di ahlinya. 

Inilah yang terjadi di salah satu daerah penghasil produk mobil listrik beserta rantai pasoknya, yang dimaksud oleh penulis di awal tulisan: Morowali. Daerah terpencil yang berada di ketiak Sulawesi Tengah. 

Sebelum Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden, Morowali adalah nama yang entah apa, asing di telinga. Selang beberapa tahun, setelah Presiden Jokowi menjadi Presiden, Morowali naik daun. Namanya kian bersinar, berkat nikel. Tak disangka, salah satu kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia yang bercokol di Bumi Morowali tersebut berhasil menggaet nama-nama mentereng di dunia untuk mengalirkan investasinya ke Indonesia. Sebut saja seperti Panasonic, CATL, LG, VW, hingga Mercedez. 

Dulu, Morowali bukanlah siapa-siapa. Ketika ia didandani dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009, peraturan yang melarang penjualan nikel ore, nikel dalam bentuk bongkahan yang belum diolah, disitulah semua mata tertuju pada Morowali. Walaupun sempat digugat oleh Uni Eropa melalui WTO, Indonesia tidak goyah! Tekad untuk mempercantik Morowali telah bulat. Ia didandani dengan regulasi dan insentif pajak yang menguntungkan kedua belah pihak secara adil, hingga banyak perhatian tertuju pada Morowali. Ia benar-benar selektif memilih siapa saja yang dapat bekerjasama dengannya, demi masa depan bersama. 

“Jika investasi yang mengalir adalah dari LG dan Panasonic, mengapa yang datang adalah pekerja Tiongkok?,” suara sumbang ini sering datang. Mari kita perjelas. Indonesia kini sama dengan Tiongkok dahulu kala, saat mereka mendapatkan pengetahuan metalurgi dan permesinan dari Jerman, elektronika dari Korea dan Jepang, sedangkan teknik pertambangan dari Israel. Berguru, Indonesia sedang berguru. Tak ada yang gratis untuk kemajuan bangsa. 

“Baterai mobil saja, apa hebatnya?,” adalah suara sumbang yang lainnya, mari kita duduk bersama lagi. Banyak pabrik di Tiongkok yang akan dan sedang melakukan relokasi ke Morowali. Ya, daerah yang bahkan kamu tidak tahu di mana letaknya di peta, kini bagaikan gula bagi pelaku industri! Secara perlahan, Morowali menjadi bintang baru di dunia industri teknologi. 

Stainless steel, slab, nickel pig iron, carbon steel, CRC carbon atas berbagai ragam produk industri berbasis nikel dan bauksit adalah produk yang akan dibuat oleh pabrik yang telah siap direlokasi. Produk olahan cobalt serta lithium akan dijadikan sebagai bahan baku pembuatan baterai untuk kendaraan listrik. Nikel laterit untuk kebutuhan lithium generasi kedua akan menjadi produk unggulan berskala internasional. Dan, ingat ini adalah buatan Indonesia. Jadi, jangan kaget jika nantinya nama Nusantara menyandang nama ‘Indonesia penguasa mobil listrik’. 

Mimpi untuk menjadi negara maju akan semakin dekat, bukan hanya lamunan siang bolong belaka. Berkat nikel, anugerah bangsa yang luar biasa, dengan regulasi dan insentif kebijakan yang membuat sekeliling berlomba menjadikan Indonesia negara maju. Sedang, pemulihan ekonomi akibat pandemi seolah menemukan jalan terang berkat nikel, kita hanya perlu mengikuti jalan tersebut. 

Siapkah kamu jalan bersama, bergandengan tangan menuju jalan terang tersebut?

Related posts