Kisah Orang Rimba Tersingkir dari Hutan Akibat Industri, 11 Orang Mati karena Kelaparan

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Pada artikel sebelumnya, salah satu orang rimba, Tarib yang kemudian berubah nama menjadi jaelani setelah masuk Islam

Read More

Namun ternyata tinggal di perkampungan dengan kehidupan modern membuat dirinya boros uang.

Biasanya ketika tinggal di hutan, Jaelani tidak mengeluarkan banyak uang. Sebagian kebutuhan hidup bisa dipenuhinya dari alam.

Namun setelah tinggal di perkampungan dengan kehidupan modern, ia menjadi boros karena harus membayar banyak hal, termasuk tagihan listrik dan pulsa.

“Kalau di hutan ini cuma butuh uang Rp 100.000, tapi kalau tinggal di dusun (kampung) bisa Rp 2 juta kita habis,” kata Jaelani.

Karena biaya hidup yang tinggi, uang simpanannya di tanah mulai “terkikis”. Ditambah harga karet dan sawit merosot tajam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu pada 2014, Jaelani yang sudah memiliki KTP dan rumah di kampung mencoba meminjam uang ke bank dengan anggunan sertifitkat kebun sawit dan karet.

Ia bermaksud meminjam uang untuk penghijauan hutan yang kritis karena deforestasi. Ia juga ingin menanam jernang dan tanaman obat yang nyaris punah.

Namun upaya itu gagal. Jaelani kembali ditolak bank dengan alasan tidak ada penjamin, yakni orang yang dipandang kaya dan tinggal di kampung.

Padahal, kata Jaelani, orang rimba itu tidak pernah main-main dengan orang atau lembaga yang mengerti baca tulis, dan pemerintah.

Orang rimba, menurutnya, tidak pernah berkhianat dalam perjanjian karena takut dihukum.

“Kami tidak pernah membuat utang, kalau tidak sanggup membayar,” katanya.

Sebenarnya, bukan hanya Jaelani yang ditolak bank saat hendak meminjam. Orang rimba lainnya juga, Pengidas, yang memiliki usaha kerajinan dan tergabung dalam Kelompok Kedundong Mudo pernah mengalami kejadian serupa.

Tersingkir dari hutan

Sementara itu, ketua KKI Warsi, Sukma Reni, yang mengadvokasi orang rimba mengatakan, sebenarnya orang rimba di hutan memiliki kehidupan ekonomi yang cukup.

Bahkan, kata dia, mereka bisa dibilang kaya dalam pengertian bahwa mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup seperti pangan dengan mudah karena tinggal mengambilnya di hutan.

Namun akibat penyempitan hutan, orang rimba kian terpinggirkan. Mereka terpaksa hidup “menumpang” dalam perkebunan sawit dan hutan tanaman industri.

Atas kesulitan orang rimba, Warsi melakukan advokasi dan pendampingan agar bisa hidup sesuai dengan adat budaya dan keinginan mereka atas masa depan.

Bagi mereka yang menetap di hutan, diberikan penguatan pengembangan ekonomi. Contohnya pelatihan kecakapan hidup seperti produksi kerajinan tangan, sablon baju, dan budidaya jernang.

Reni mencontohkan Kelompok Gentar di Sako Nini Tuo, Desa Sungai Jernih Kecamatan, Muara Tabir Tebo, Kabupaten Teb, yang hidup dengan adat dan budaya mereka.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010, orang rimba berjumlah 3.250 jiwa. Lalu pada 2015 meningkat menjadi 4.065 jiwa.

Sebesar 60 persen atau 2.199 jiwa tinggal di wilayah konsensi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan sawit. Lalu sisanya, 1.866 jiwa tinggal di kawasan TNBD.

Orang rimba yang berada di luar hutan, menurut Reni, tidak memiliki persediaan pangan lokal seperti gadung, benor dan ubi. Mereka makan mi, beras dan roti.

“Ini yang membuat mereka kelaparan apabila tidak memiliki penghasilan. Mereka sangat bergantung pada uang,” kata Reni.

Pada awal 2015 lalu, ada 11 orang rimba yang meninggal karena kelaparan. Sebab mereka tinggal di perkebunan perusahaan.

Di luar hutan, orang rimba tidak bisa menemukan makanan seperti gadung, benor dan umbi-umbian.

Orang rimba yang berada di luar hutan secara ekonomi paling rentan dan membutuhkan penguatan ekonomi dari pemerintah dan industri keuangan.

Sebab, ketika sudah terlepas dari hutan mereka harus bersaing dengan masyarakat umum untuk mencari penghidupan.

Menurut Reni, orang rimba sudah menjadi korban perekonomian Indonesia. Hutan tempat tinggal mereka banyak yang dibabat untuk kepentingan permukiman transmigrasi, kebun sawit dan hutan industri. (Penulis: Kontributor Jambi, Suwandi | Editor: David Oliver Purba)

#Kisah #Orang #Rimba #Tersingkir #dari #Hutan #Akibat #Industri #Orang #Mati #karena #Kelaparan #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts