6 Terapi Covid-19 Selain Plasma Konvalesen

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Peneliti dan tim medis hingga kini masih melakukan berbagai perawatan atau terapi untuk pasien Covid-19.

Read More

Meski belum ada terapi yang benar-benar menyembuhkan infeksi virus Corona, namun beberapa perhimpunan dokter di Indonesia menyusun daftar pilihan terapi Covid-19 yang tertuang dalam Pedoman Tatalaksana Covid-19.

Beberapa perhimpunan dokter itu antara lain Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpupan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com pada Sabtu (3/7/2021), berikut ini 6 terapi Covid-19 selain Plasma Konvalesen.

1. N-Asetilsistein

Sebelumnya, N-Asetilsistein digunakan sebagai obat mukolitik, namun obat yang memiliki sifat antioksidan ini disebut efektif untuk terapi Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seperti yang diketahui, infeksi virus Corona menyebabkan ketidakseimbangan oksidan dan antioksidan yang mengakibatkan inflamasi dalam tubuh.

2. Intravenous Immunoglobulin (IVIG)

IVIG merupakan salah satu kandungan plasma darah yang bisa memberikan proteksi imun terhadap berbagai macam patogen yang bisa masuk ke dalam tubuh manusia.

3. Sel Punca Mesenkimal

Sel Punca Mesenkimal berfungsi sebagai imunoregulasi yang mampu memperbaiki kerusakan sel dan mengontrol peradangan. Sel Punca atau stem cell berpotensi untuk menyeimbangkan proses inflamasi pada pasien dengan gejala ARDS.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa terapi Sel Punca Mesenkimal mampu meningkatkan harapan hidup pada pasien Covid-19 dengan gejala berat.

4. Antibiotik

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa antibiotik dapat mengatasi infeksi Covid-19. Sejauh ini baru ada dugaan bahwa penggunaan antibiotik pada kasus Covid-19 mengacu pada kejadian infeksi sekunder pada infeksi influenza.

Dalam seminar Isolasi Mandiri Pasien Covid yang diselenggarakan oleh Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, dr. Heidy Agustin, Sp.P(K) memaparkan mengenai penggunaan antiobiotik pada pasien Covid-19.

Menurutnya, penggunaan antibiotik tidak direkomendasikan untuk pasien tanpa gejala atau dengan gejala ringan. Antibiotik hanya dianjurkan untuk pasien dengan gejala sedang, berat, dan kritis.

Penggunaannya pun untuk mencegah kemungkinan terjadinya infeksi bakteri pada pasien Covid-19. Penggunaan antibiotik berlebihan pada pandemi Covid-19 berpotensi menyebabkan resistensi antibiotik.

5. Anti IL-1 (Anakinra)

Obat ini bermanfaat untuk mengatasi hiperinflamasi pada pasien yang mengalami ARDS akibat infeksi virus SARS-CoV-2.

Anakinra dapat menurunkan kebutuhan ventilasi mekanis invasif serta mengurangi risiko kematian pada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan kritis.

6. Anti IL-6 (Tocilizumab)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Tocilizumab bisa mengatasi kondisi badai sitokin dengan menurunkan penanda inflamasi yaitu CRP, ferritin, dan IL-6.

Selain itu, pasien Covid-19 yang dirawat dengan terapi ini juga menunjukkan perbaikan positif secara klinis.

Banyak ditemukan pada pasien Covid-19 dengan gejala berat, badai sitokin adalah respons sistem imun tubuh yang berlebihan akibat infeksi yang ditandai pelepasan sitokin yang tidak terkontrol, terutama IL-6.

Badai sitokin juga dapat menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS) hingga kematian.

Tocilizumab adalah antibodi monoklonal yang berfungsi sebagai antagonis reseptor IL-6. Obat ini bisa diberikan secara intravena atau subkutan pada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan kritis yang diduga mengalami hiperinflamasi.

Sumber: KOMPAS.com (Nadia Faradiba)

#Terapi #Covid19 #Selain #Plasma #Konvalesen #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts