Idul Adha dan Spirit Merawat Kehidupan

  • Whatsapp

CUITAN Ade Armando di Twitter yang membandingkan jumlah kematian karena Covid-19 di Inggris dan di Indonesia menjadi viral.

Read More

Netizen banyak yang protes terhadap cuitannya. Sebagian besar melihat Ade Armando tidak simpatik terhadap korban dan keluarganya karena ia memandang orang yang meninggal karena Covid-19 sekedar sebagai angka.

Selain itu, ucapannya dilihat tidak sensitif terhadap jumlah peningkatan kasus dan kematian di Indonesia yang kini menjadi episentrum Covid-19 di Asia.

Kematian dalam angka vs kematian sebagai pengalaman subyektif

Ada dua pandangan yang berbeda tentang kematian (Hoffman, 2020). Pertama, kematian secara plural (death in plural).

Cara pandang ini melihat kematian sebagai fenomena kolektif dan objektif. Kematian dilihat di tingkat populasi, dikuantifikasi, disajikan sebagai angka, dalam rangka membandingkan dan menganalisis.

Di tengah pandemi Covid 19 ini, pandangan tentang kematian yang plural tidak bisa terhindarkan. Pemerintah dan masyarakat perlu mengetahui jumlah korban dari sars cov-2 yang ganas ini.

Kedua, kematian sebagai pengalaman subyektif personal. Pandangan ini melihat, kematian adalah keniscayaan. Setiap orang akan mengalami kematian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kalau kemarin (19 Juli 2021) 1093 orang meninggal dunia, maka di antara 1093 orang itu, ada anak kecil yang kehilangan ibunya, ada orang tua yang kehilangan anak semata wayangnya, ada seorang pria yang batal menikah karena calon isterinya meninggal dunia.

Kalau hari ini ratusan juta masyarakat Indonesia tidak termasuk dari keluarga korban Covid 19 yang meninggal dunia, bisa jadi esok atau lusa, maut akan menjemput mereka atau orang yang mereka cintai.

Ketika mengatakan prosentase orang yang meninggal dunia karena Covid-19 di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan di Inggris, Ade Armando sedang membicarakan kematian secara plural. Ia melihatnya sebagai fenomena objektif.

Dengan rasionalitas, ia secara dingin memandang jumlah orang yang meninggal dunia sebagai angka, untuk mengatakan bahwa kondisi Indonesia tidak terlalu buruk kalau dibandingkan dengan negara maju seperti Inggris.

Memento Mori: seruan pengingat kematian

Setiap mahluk hidup pasti akan mati. Kebenaran itu yang hendak disampaikan dalam ungkapan memento mori (Latin: ingatlah kamu akan mati).

Menurut tradisi Romawi, ungkapan memento mori diucapkan oleh seorang budak kepada seorang jenderal pemenang perang.

Ketika melalukan parade kemenangan perang, seluruh rakyat bersorak-sorai merayakan kemenanangan tersebut. Jenderal tersebut begitu dipuji karena ia merepresentasikan kekuatan, kejayaan dan kebesaran.

Di belakang jenderal itu, ada seorang budak yang bertugas untuk membisikkan sesuatu yang penting untuk jenderal tersebut hayati: Lihatlah ke belakang. Ingatlah kamu adalah manusia. Ingatlah kamu akan mati (Respice post te. Hominem te esse memento. Memento mori.).

Pandemi Covid-19 ini menjadi sirine yang berbunyi jelas di telinga manusia: Memento mori, ingatlah kematianmu.

Kabar duka cita yang datang silih berganti, yang berisi informasi kematian orang yang kita kenal atau bahkan keluarga sendiri memaksa kita memandang kematian secara lebih dalam.

Pandemi ini memaksa kita untuk memaknai hidup sebagai -mengutip Martin Heidegger-keberadaan menuju kematian (Sein zum Tode).

Menurutnya, ketika orang terlahir ke dunia, maka saat itu juga ia sudah cukup tua untuk meninggal dunia.

Orang tidak tahu kapan waktunya. Tetapi kematian pasti akan tiba. Kematian akan dialami dalam subyektifitas: saya sendirilah yang akan mengalaminya.

Merawat kehidupan

Ritual pemotongan kurban dalam hari raya idul Adha tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim, yang diperintahkan Allah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail.

Usai penantian panjang, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang anak oleh Allah. Ketika Nabi Ismail, putranya beranjak remaja, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri

Nabi Ibrahim adalah orang yang patuh. Dia menaati perintah Allah meski harus mengorbankan anak yang telah lama dinantikannya. Namun sebelum Nabi Ibrahim mengorbankan putranya, Allah menggantikannya dengan domba.

Di balik kisah tersebut ada makna spiritual yang dalam. Nabi Ibrahim bersedia menaati perintah Allah untuk mengorbankan putranya. Tetapi Allah tidak menghendaki kematian anaknya.

Sesungguhnya, itu ujian keimanan. Karena itu, Allah kemudian menggantikannya dengan korban domba. Allah sesungguhnya tidak menghendaki, ketaatan kepada-Nya dilakukan dengan mengorbankan kehidupan manusia.

Rasanya, pesan Idul Adha yang demikian relevan di tengah pandemi Covid-19 yang sedang kita hadapi.

Di satu sisi, kita harus bersiap jika kita atau orang yang kita cinta akan meninggal dunia atau kembali kepada-Nya.

Pandemi ini dengan jelas mengajarkan kepada kita, kematian bisa mendatangi siapa saja: tua muda, miskin kaya, pria-wanita.

Bisa saja suatu saat kita atau orang yang kita cintai kembali kepada-Nya karena terinfeksi Sars Cov-2. Karena itu, kita harus berserah dan siap sedia jika itu harus terjadi. Memento mori!

Di sisi lain, kita perlu tetap menjaga dan merawat kehidupan yang dikaruniakan-Nya. Sama seperti Allah tidak menghendaki kematian Nabi Ismail dan menggantikannya dengan korban domba, maka kita diperintahkan untuk merawat dan menghargai kehidupan manusia.

Jangan sampai terjadi, kita mengabaikan protokol kesehatan dengan dalih hidup mati kita di tangan Tuhan. Imbauan Wakil Presiden, agar pelaksanaan ritual Idul Adha perlu memperhatikan protokol kesehatan, sehingga tidak menjadi klaster baru penularan Covid-19 di Indonesia, perlu dimaknai dalam semangat merawat kehidupan seperti ini.

Ritual korban yang berdimensi sosial – karena memerintahkan umat Muslim untuk memperhatikan orang miskin melalui pemberian daging korban- merupakan pesan kuat agar setiap orang bersedia menjaga dan merawat kehidupan sesama, khususnya mereka yang lemah dan membutuhkan.

#Idul #Adha #dan #Spirit #Merawat #Kehidupan #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts