Bukan Garuda, Ini Maskapai Penerbangan Pertama Milik Indonesia

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Perusahaan maskapai penerbangan pertama Indonesia ternyata bukanlah Garuda Indonesia.

Pasalnya, sebelum Garuda Indonesia lahir,sudah terdapat maskapai penerbangan bernama Indonesian Airways yang beroperasi secara komersil.

Uniknya, Indonesian Airways justru tidak banyak beroperasi di Indonesia, melainkan berpusat di Burma atau yang sekarang dikenal dengan negara bernama Myanmar.

Laman resmi Garuda Indonesia juga mengakui keberadaan Indonesian Airways sebagai maskapai yang pertama kali mengoperasikan penerbangan sipil.

“Penerbangan sipil Indonesia tercipta pertama kali atas inisatif Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan menyewakan pesawat yang dinamai “Indonesian Airways” kepada pemerintah Burma pada 26 Januari 1949,” tulis laman resmi perusahaan Garuda Indonesia, dikutip pada Sabtu (7/8/2021).

Bagaimana bisa Indonesian Airways beroperasi di Myanmar dan seperti apa nasib perjalanan maskapai tersebut? Simak ulasan mengenai maskapai penerbangan pertama Indonesia berikut ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Keberadaan Indonesian Airways tak lepas dari pembelian pesawat Dakota yang diberi nomor Register RI-001 yang kelak dikenal dengan RI-001 Seulawah. Dikutip dari laman resmi TNI AU, pesawat ini dibeli dari hasil dana Dakota yang dibentuk atas gagasan KSAU Komodor Udara S Suryadarma.

Dalam pengumpulan dana Dakota tersebut, Presiden Sukarno berpidato untuk pertama kalinya pada tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Aceh Kuta Raja. Pidato yang disampaikan mampu menggugah semangat rakyat Sumatera, khususnya di Aceh.

“Dengan serta merta terbentuklah Panitia Dana Dakota yang diketuai oleh Djuned Yusuf dan Muhammad Al Habsji. Dalam waktu dua hari masyarakat Aceh telah berhasil mengupulkan uang 130.000 straits dollar,” tulis laman TNI AU dikutip pada Sabtu (7/8/2021).

Untuk pelaksanaan pembelian pesawat terbang, AURI menugaskan Opsir Muda Udara II Wiweko Supono sebagai ketua misi pembelian yang dibantu oleh Opsir Muda Udara III Nurtanio Pringgodisuryo.

Singkat cerita, pesawat Dakota RI-001 tiba di Indonesia pada bulan Oktober 1948. Sebulan setelah kedatangannya, pesawat ini telah mengantarkan Wakil Presiden melakukan kunjungan ke Sumatera melalui rute Maguwo – Jambi – Payakumbuh – Kuta Raja pulang pergi.

“Penerbangan ini merupakan penerbagan perdana setelah menjadi milik Indonesia. Di Aceh, pesawat ini disambut dengan gembira dan suka cita, bahkan sempet diadakan terbang perkenalan kepada pemuka masyarakat Aceh,” jelasnya.

Penerbangan berikutnya adalah penerbangan dari Maguwo tanggal 1 Desember 1948 menuju Piobang (Payakumbuh) membawa beberapa personel untuk memperkuat militer di Sumatera.

Tiga hari di Payakumbuh, tanggal 4 Desember 1948 pesawat bertolak ke Kutaraja untuk mengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kuta Raja yang dipimpin oleh Kasal Laksamana Laut Subijakto.

Lahirnya maskapai pertama Indonesian Airways

Dalam rangka perawatan mesin berkala dan pemasangan tangki jarak jauh, pada tanggal 6 Desember 1948 pesawat diterbangkan menuju Calcuta-India.

Penerbangan tersebut diawaki oleh Kapten Pilot J Maupin, Kopilot Opsir Udara III Sutardjo Sigit, juru radio Opsir Muda Udara III Adi Sumarmo serta seorang juru mesin Caesselbery.

Dakota RI-001 membawa empat penumpang, saudagar Aceh yang akan merintis hubungan dagang dengan luar negeri.

Setelah melalui perawatan, Dakota RI-001 dinyatakan layak operasional sejak tanggal 20 Januari 1949. Inilah tonggah bersejarah yang akhirnya melatarbelakangi lahirnya maskapai pertama Indonesian Airways.

“Tidak memungkinkan untuk kembali ke tanah air berhubung berkecamuknya perang menghadapi Agresi Belanda II. Berhubung sudah terputusnya hubungan dengan pimpinan di tanah air maka Wiweko Supeno, Sutarjo Sigit, dan Sudaryono bersepakat untuk berjuang di luar negeri dengan cara lain,” tulis TNI AU.

Mereka lantas bersepakat untuk mengoperasikan pesawat tersebut di luar negeri melalui penerbangan komersial. Awalnya penerbangan komersial ini direncanakan di India, namun karena sudah ada perusahaan penerbangan India Nation Airline (INA) yang melayani penerbangan dalam negerinya sehingga perhatian dialihkan ke Burma.

Untuk bisa beroperasi di Burma, RI-001 harus dalam bentuk perusahaan air lines. Maka atas prakarsa Opsir Udara II Wiweko Supeno dan bantuan Marjuni (perwakilan RI di Burma) tanggal 26 Januari 1949 didirikanlah sebuah perusahaan penerbangan niaga.

Perusahaan yang didirikan tersebut bernama Indonesian Airways yang berpangkalan di Ranggon (Burma). Indonesian Airways berdiri dengan modal utama satu pesawat RI-001 Seulawah dengan personel antara lain J.H. Maupin (pilot), Alan Ladmore dan Caesselbery (juru mesin) dibantu oleh tenaga Indonesia, Opsir Udara III Wiweko Supomo, Opsir Udara II Sutardjo Sigit, dan Opsir Udara Sudarjono.

Tanggal 26 Januari 1949, Indonesian Airways sudah berada di Bandara Mingladon, Burma berjajar di antara perusahaan penerbangan lainnya. Pada hari itu juga RI-001 melaksanakan penerbangan pertamanya sebagai pesawat komersial.

“RI-001 Seulawah yang dioperasikan dengan nama perusahaan Indonesian Airways sebagai pesawat komerisal tidak seperti perusahaan penerbangan airline lainnya. RI-001 Seulawah tidak mengangkut penumpang perorangan,” tulis TNI AU.

Pesawat RI-001 dicharter oleh pemerintah Burma sebagai pesawat dalam operasi militer yang memang pada saat itu di Burma sedang terjadi pemberontakan dan pemerintahannya sibuk menumpas pemberontakan tersebut.

“Dalam kontrak penyewaan pesawaat RI-001 telah terjalin kerjasama yang baik dan saling pengertian dengan Jenderal Ne Win (Kepala Staf Angkatan Darat Burma) sehingga Indonesian Airways mendapat pembayaran tunai dalam melaksanakan angkutan udara untuk operasi militer,” jelas TNI AU.

Perjalanan Indonesian Airways hingga tinggal nama

Hampir semua wilayah Burma telah dijelajahi dan didarati oleh Indonesian Airways menggunakan pesawat RI-001 Seulawah, untuk keperluan niaga maupun untuk keperluan pemerintah dan militer.

“Meskipun beroperasi di Burma, Pesawat RI-001 dua kali menerobos blokade udara yang dilakukan oleh Belanda dari Ranggon ke Aceh dengan membawa bantuan persenjataan dan amunisi guna melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” beber TNI AU.

Pesawat RI-001 Seulawah ini merupakan pelopor penerbangan sipil nasional karena dengan pesawat inilah didirikan Indonesia Airways yang beroperasi di Burma.

Dana yang diperoleh oleh operasi penerbangan di Burma ini digunakan untuk membiayai kadet-kadet udara yang belajar di India dan Filipina.

Selain membiayai para kadet yang menjalani pendidikan, operasi RI-001 dapat membeli beberapa pesawat Dakota lainnya yang diberi nomor registrasi RI-007 dan mencharter pesawat RI-009.

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda dan pemulihan kekuasaan Pemerintah RI, dilakukan perubahan organisasi dan personel di lingkungan AURIS. Perubahan itu juga menyangkut keberadaan Indonesian Airways di Ranggon (Burma), maka Indonesian Airways dilikuidasi dan semua kegiatan di wilayah Burma dihentikan.

Selanjutnya, pesawat RI-001 Seulawah tiba di Pangkalan Udara Andir pada tanggal 3 Agustus 1950 jam 11.35 setelah melewati rute Rangoon-Bangkok-Medan-Andir.

Setelah tidak beroperasi sebagai pesawat komersial Indonesia Airways, pesawat RI-001 Seulawah ditempat di Pangkalan Udara Andir Bandung.

“Di Andir pesawat tersebut digunakan untuk “joy flight”. Setelah tidak digunakan lagi pada awal tahun 1950, pesawat RI-001 diserahkan ke bagian teknik dan diparkir di ujung landasan sebelah barat PU Andir,” jelas TNI AU.

 

#Bukan #Garuda #Ini #Maskapai #Penerbangan #Pertama #Milik #Indonesia #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts