Cerita Peneliti Asal ITB di Jepang yang Terlibat Penelitian Vaksin Merah Putih

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah saat ini sedang mengembangkan vaksin Covid-19 yang diberi nama Vaksin Merah Putih.

Read More

Penelitian vaksin tersebut melibatkan banyak para peneliti, salah satunya adalah David Virya Chen. Dia adalah peneliti vaksin asal Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga sedang melakukan penelitan vaksin di Osaka, Jepang.

Meski tidak terlibat secara aktif, akan tetapi David memiliki peranan yang cukup penting dalam penelitian vaksin Merah Putih tersebut.

“Saya supporting saja. Jadi memang sejak akhir tahun kemarin dengan support dari diplomat kita, kami berusaha membangun suatu hubungan research yang lebih serius, terutama dengan basis Covid-nya vaksin ini,” kata David di acara Dialog Kemerdekaan Bagimu Negeri yang digelar Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) secara daring, Kamis (19/8/2021).

David mengatakan, dalam penelitian tersebut dirinya terlibat secara pasif.

Pasif yang dimaksud adalah pihaknya akan menyediakan dan mendukung apa yang dibutuhkan oleh peneliti Vaksin Merah Putih yang berbasis di almamaternya, yakni ITB.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pasifnya, palugada (apa lu mau, gue ada). Profesor saya sangat baik, dia bilang, ‘Semua, apa yang ada di laboratorium, kami transfer ke almamater kamu (ITB), pokoknya kamu urus saja’. Betul-betul saya terkejut,” kata David.

Saat itu, ujar dia, para diplomat dari Kementerian Luar Negeri juga datang langsung menunjukkan keseriusan Indonesia melakukan penelitian vaksin Covid-19 tersebut.

Padahal, kata dia, riset vaksin bukanlah hal yang mudah.

“Dari situ mulai terbangun lebih baik dan akhirnya sampai sekarang kami masih terus berusaha. Riset proses yang panjang, lama, dan melelahkan. Ngobrol intens dengan pihak ITB (mereka) perlu apa, kami bantu, tidak usah bayar juga tidak apa-apa. Itu yang sedang saya lakukan salah satunya,” ujar David.

Setelah komunikasinya sudah terjalin dengan tim Vaksin Merah Putih ITB, kata dia, maka David pun berharap dapat terus membantu walaupun sedikit.

Bahkan, jika ingin bantuan yang lebih besar pun hingga semua laboratorium dipindahkan, kata dia, dirinya dan profesornya di Jepang pun akan senang.

Lebih lanjut David membocorkan pekerjaan yang dilakukannya dalam meneliti vaksin selama ini, yakni membuat desain vaksin.

Hal tersebut dikatakannya merupakan bagian yang agak sulit mengingat dalam satu laboratorium sumber dayanya sedikit.

“Kalau saya analogikan virus itu orang, saya mempelajari salah satu bagiannya saja. Efektif tidak ya kalau vaksinnya kita rancang berdasarkan cetakan tangan virusnya saja misalnya atau pakai kepalanya saja,” kata dia.

“Kami lagi mencari, mendesain sebetulnya yang mana yang paling oke? Mungkin tidak ada mekanisme lain? Kami mencari bagian spesifik dari orang virus, mana yang paling bagus. Bagian yang saya kerjakan cukup pahit karena kadang-kadang harus menelan kegagalan yang benar-benar gagal,” ucap David.

Diketahui, pemerintah menargetkan Vaksin Merah Putih dapat diproduksi pada 2022.

Saat ini, Vaksin Merah Putih masih dalam proses uji praklinik.

Dalam pengembangannya, pemerintah bekerja sama dengan dengan empat universitas dan dua lembaga.

Keempat universitas itu yakni Universitas Airlangga (Unair), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kemudian, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

#Cerita #Peneliti #Asal #ITB #Jepang #yang #Terlibat #Penelitian #Vaksin #Merah #Putih #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts