Mengapa Ajang Olahraga Tanah Air Kerap Diwarnai Kericuhan?

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Insiden yang terjadi pada cabang olahraga tinju di ajang PON XX 2021 Papua menambah catatan panjang kericuhan dalam gelaran olahraga tanah air.

Read More

Bahkan, kerusuhan di dunia olahraga Indonesia kerap disebut sebagai hal “lumrah” atau sebagai “bumbu” wajib sebuah turnamen.

Meski berujung damai, kericuhan yang terjadi pada cabor tinju di PON Papua disebut karena ketidakpuasan salah satu atlet atas hasil pertandingan.

Pengamat olahraga Djoko Pekik Irianto menyebut dua alasan utama mengapa kerusuhan kerap terjadi di pertandingan olahraga tanah air.

Menurutnya, kericuhan umumnya disebabkan oleh mindset pelaku olahraga, baik pemain, pelatih, maupun pembina yang tidak bisa memaknai esensi olahraga.

“Poinnya adalah sportifitas. Kalau semua memahami itu, tidak akan terjadi hal-hal yang selama ini kita saksikan,” kata Djoko saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (9/10/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kericuhan umumnya dipicu karena ketidakpuasan

Tangkapan layar Instagram Keributan terjadi usai pertandingan tinju di PON XX 2021 Papua, di GOR Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Jumat (8/10/2021) sore. Video keributan tersebut kemudian beredar luas dan viral di media sosial. Dalam video tersebut terlihat seorang oknum relawan PON Papua mengejar atlet tinju asal DKI Jakarta Jill Mandagie.

Dari sisi teknis, Djoko menyebut sumber daya manusia (SDM) yang mengawasi pertandingan harus benar-benar terkualifikasi.

Sebab, kericuhan dalam olahraga umumnya dipicu oleh ketidakpuasan di dalam penjurian atau kepemimpinan wasit.

“Kita harus segera melakukan pembinaan terhadap para wasit dan juri, harapannya punya lisensi yang memadahi, sehingga dalam pertandingan bisa melaksanakan secara fair play,” jelas dia.

Ia juga menyorot sistem penilaian sejumlah pertandingan olahraga yang masih memakai sistem lama dan usang.

Djoko mencontohkan sistem penilaian dalam cabor binaraga di ajang PON Papua XX yang sempat diwarnai protes sejumlah daerah.

Menurutnya, protes itu dipicu oleh penilaian yang masih menggunakan cara lama, sehingga menimbulkan potensi unfair untuk menentukan pemenang.

“Jadi para juri yang jumlahnya ada 6 atau 7, setelah atlet menampilkan performanya, itu menilai secara manual, ditulis di atas kertas, kemudian ada petugas yang mengumpulkan dan diserahkan ke petugas statistik,” kata dia.

“Sistem ini kan seharusnya tidak zamannya lagi di era digitalisasi. Seharusnya begitu melakukan performa, wasit tinggal nekan nilai, langsung kelihatan, sehingga akan menunjukkan penilaian yang transparan dan objektif,” sambungnya.

Pentingnya kualitas pelatih

Untuk mengatasi masalah kericuhan yang sudah mendarah daging ini, Djoko menyebut pentingnya kualitas pelatih.

Dari sosok pelatih ini, nilai-nilai sportifitas akan mampu ditanamkan kepada para atlet, sehingga bisa menerima kekalahan atau kemenangan.

Selain itu, Djoko juga menyoroti pentongnya perbaikan kualitas penjurian yang dibuktikan dengan adanya lisensi.

Senada, sosiolog Universitas Airlangga Tuti Budirahayu menyebut dua masalah di balik maraknya kerusuhan di dunia olahraga tanah air.

“Jadi ada 2 faktor yang mungkin punya pengaruh yang cukup signifikan, yaitu kemampuan bersikap sportif dan kedewasaan untuk menerima kekalahan, serta fairness juri atau wasit,” kata Tuti, saat dihubungi secara terpisah.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, kesalahpahaman yang terjadi pada pertandingan PON XX cabang olahraga tinju sudah diselesaikan secara damai di Mapolda Papua pada Jumat (8/10/2021).

Selain dari pihak kepolisian, juga dihadiri perwakilan kontingen DKI Jakarta Viktor Petroes Wangelaha dan perwakilan relawan PON XX Papua Bobirus Yikwa.

Keduanya sepakat berdamai dan saling memaafkan.

“Saya berpesan kepada masyarakat untuk bersemangat sportifitas harus kita jaga, baik atlet, official, pelatih, relawan dan penonton. Diharapkan suasana menjadi harmoni agar pelaksanaan PON XX Papua dapat diselenggarakan dengan sukses,” ucap Wakapolda Papua Brigjen Pol Eko Rudi Sudarto melalui Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal sebagaimana rilis yang diterima Kompas.com, Sabtu (9/10/2021).

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Mengapa #Ajang #Olahraga #Tanah #Air #Kerap #Diwarnai #Kericuhan

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts