Penyakit Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) – Gejala, Penyebab, Pengobatan

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) merupakan kondisi saat ovarium menghasilkan jumlah androgen yang tidak normal, hormon seks pria yang umumnya terdapat pada wanita dalam jumlah kecil.

Sindrom ovarium polikistik menggambarkan banyaknya kista kecil (kantung berisi cairan) yang terbentuk di ovarium.

Namun, dalam beberapa kasus, wanita penderita PCOS tidak memiliki kista. Sementara itu, beberapa wanita tanpa gangguan ini justru mengembangkan kista.

Ketidakseimbangan hormon pada gangguan ini juga menyebabkan penderita PCOS melewatkan periode menstruasi dan membuat lebih sulit hamil.

Selain itu, PCOS juga dapat menyebabkan pertumbuhan rambut di wajah dan tubuh, serta kebotakan.

Juga, dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang seperti diabetes dan penyakit jantung.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gejala

Tanda dan gejala PCOS umumnya muncul pada akhir masa remaja atau awal usia 20-an.

Gejala dapat mencakup:

  • haid tidak teratur atau tidak haid sama sekali
  • kesulitan hamil akibat ovulasi yang tidak teratur atau kegagalan untuk ovulasi
  • pertumbuhan rambut yang berlebihan (hirsutisme), biasanya di wajah, dada, punggung, atau bokong
  • penambahan berat badan
  • penipisan rambut dan rambut rontok dari kepala
  • kulit berminyak atau berjerawat
  • potongan kecil kulit berlebih di leher atau ketiak (skin tag)
  • bercak kulit gelap atau tebal di bagian belakang leher, di ketiak, dan di bawah payudara.

Penyebab

Belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya PCOS.

Seseorang dapat lebih mungkin terkena PCOS jika memiliki kerabat yang juga mengalami kondisi serupa.

Hal lain juga bisa jadi meliputi tubuh yang memproduksi terlalu banyak insulin, memengaruhi indung telur dan kemampuannya untuk berovulasi (melepaskan sel telur).

Diagnosis

Umumnya, dokter mendiagnosis PCOS pada wanita yang setidaknya mengalami dua dari tiga gejala berikut:

  • kadar androgen tinggi
  • siklus haid tidak teratur
  • kista di ovarium.

Saat pemeriksaan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, khususnya area pinggul.

Dokter mungkin akan melakukan tes berikut.

  • USG. Tes ini menggunakan gelombang suara dan komputer untuk membentuk gambar pembuluh darah, jaringan, dan organ. Visualisasi dari USG dapat membantu dokter melihat ukuran ovarium dan jika ada kista. Selain itu, juga dapat menunjukkan ketebalan lapisan rahim (endometrium).
  • Tes darah. Tes darah dapat dilakukan untuk mencari kadar androgen dan hormon lainnya. Dokter juga mungkin akan memeriksa kadar glukosa darah, kolesterol, dan trigliserida.

Perawatan

Tidak ada obat khusus untuk PCOS. Namun, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani gejala.

Jika menderita PCOS dan kelebihan berat badan, menjaga berat tubuh agar kembali seimbang dengan makan makanan sehat dapat memperbaiki gejala.

Selain itu, terdapat juga obat-obatan untuk mengobati gejala seperti pertumbuhan rambut berlebihan, menstruasi, dan masalah kesuburan.

Apabila obat kesuburan tidak efektif, dokter mungkin akan menyarankan prosedur bedah sederhana bernama pengeboran ovarium laparoskopi (LOD).

Prosedur tersebut melibatkan laser untuk menghancurkan jaringan di ovarium yang memproduksi androgen, seperti testosteron.

Jika ditangani dengan efektif, kebanyakan wanita dengan PCOS masih bisa hamil.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

#Penyakit #Sindrom #Ovarium #Polikistik #PCOS #Gejala #Penyebab #Pengobatan

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts