Bukan Tanpa Alasan, Ini Sebab Hilirisasi Industri Indonesia itu Wajib

  • Whatsapp
hilirisasi industri indonesia
Ilustrasi industri.

Indonesia digugat negara-negara Uni Eropa karena dinilai telah menghalangi negara-negara mancanegara mendapatkan cadangan sumber daya alam dunia lewat kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel. Tak tanggung-tanggung, kebijakan ini digugat di World Trade Organization (WTO).

Presiden Jokowi menanggapi persidangan di WTO ini dengan santai. Mengindikasikan bahwa pemerintah tak gentar memaksimalkan pelaksanaan hilirisasi industri.

Read More

“Meskipun kita sedang digugat di WTO, nggak masalah. Saya sampaikan kemarin waktu di G20 dengan EU maupun dengan negara-negara di Eropa, kita ini tidak ingin mengganggu kegiatan produksi mereka, sila, kita ini terbuka, tidak tertutup. Kalau ingin nikel silakan, tapi datang bawa pabriknya ke Indonesia, bawa industrinya, bawa teknologinya ke Indonesia,” ungkap saat hadir di acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) secara virtual, Rabu (24/11/2021).

Larangan ekspor nikel ini bukan tanpa alasan. Menyetop ekspor nikel mentah juga sebagai bagian dari upaya hilirisasi industri di smelter nikel. Diketahui dengan adanya larangan ekspor bijih nikel mentah ini kemudian berdampak ke harga produk nikel dalam negeri di dunia yang meningkat. Diketahui nilai ekspor produk nikel Indonesia pada bulan Oktober 2021 sudah mencapai US$16,5 miliar atau Rp234 triliun dan diperkirakan di akhir tahun 2021 bisa menjadi US$20 miliar atau Rp284 triliun. 

Diketahui, bila hanya nickel ore yang dijual hanya dihargai US$40 – 60 atau Rp573.520. Tetapi bila sudah menjadi produk turunan seperti stainless steel bisa dibanderol diatas US$2000 atau Rp28 juta.

Dan kawasan industri di Sulawesi Tengah yang sudah hilirisasi memaparkan bukti nyata sudah mampu menembus ekspor dengan nilai US$4 miliar atau Rp57 triliun dalam produk hilir nikel berupa hot rolled coil and cold rolled coil ke Amerika Serikat dan China.

Ke depannya, Presiden RI menginginkan tak hanya nikel saja yang berhenti diekspor bahan mentahnya,  namun juga bauksit, tembaga, batu bara, timah, emas bahkan produk CPO.  Semua dilakukan demi mengincar pendapatan yang lebih lagi dari produk setengah jadi atau barang jadi.

Indonesia Wajib Hilirisasi Industri

Kebijakan pelarangan ekspor ini sejatinya disebabkan karena Indonesia sedang semangatnya menerapkan hilirisasi industri demi meraih pendapatan berlebih dari pemberian nilai tambah di produk industri. 

Hilirisasi industri sendiri merupakan sebuah kegiatan pengelolaan sumber daya alam hingga menjadi barang setengah jadi barang jadi. Indonesia kini harus berani menyetop ekspor bahan-bahan mentah yang langsung dari hasil pertambangan, seperti bijih nikel dan bauksit.

Hilirisasi bukan sesuatu kegiatan yang dilakukan Indonesia baru-baru ini saja. Bahkan, sejak 2009, Pemerintah menegaskan bahwa hilirisasi industri itu mutlak dilakukan. Pemberian nilai tambah pada produk sumber daya alam diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.  

Kondisi Indonesia yang menyandang predikat negara produsen minyak sawit mentah (CPO) dunia serta negara produsen kakao ketiga terbesar di dunia membuat hilirisasi industri tak bisa lagi ditunda. 

Ada pula sumber daya alam Indonesia yang berbasis logam yang tak kalah kaya sumber daya alamnya, hilirisasi mulai difokuskan di empat kelompok yaitu besi baja, aluminum, nikel dan tembaga.

Dan kini, kawasan-kawasan industri di Indonesia sudah bergerak menerapkan hilirisasi industri.

Pertama, di Industri sawit Indonesia yang tak hanya menyumbang komoditas ekspor unggulan Indonesia namun juga pemain besar industri sawit dunia. Di 2011, produk turunan industri sawit dari hulu ke hilir masih 54 jenis dan pada tahun 2021 meningkat jadi 168 jenis.

Selain itu per Agustus 2021, produk hilir kini sudah mendominasi 90,73% di industri sawit. Sedangkan volume ekspor bahan mentah hanya 9,27% saja.

Sedangkan bukti nyata hilirisasi industri sawit yaitu penambahan nilai di produk CPO memberikan pendapatan devisa negara dari industri sawit diketahui mencapai Rp13,9 triliun.

Sedangkan di industri berbasis logam juga digencarkan hilirisasi industri. Diketahui hingga kini, industri besi baja masih mendominasi dengan kapasitas smelter mencapai 19 juta ton, disusul oleh nikel 12,3 juta ton dan tembaga 3.2 juta ton serta aluminium 6 juta ton. Akhirnya, pada kuartal II-2021, total nilai investasi di industri smelter logam keseluruhan mencapai Rp731,5 triliun.

Related posts