Tak Seperti Eropa, 2 Negara Asia Ini Tak Masalah dengan Larangan Ekspor Nikel RI

  • Whatsapp
larangan eskpor nikel

Indonesia diketahui mendapatkan gugatan dari negara Eropa perihal larangan ekspor bijih nikel. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dengan tegas menyatakan tidak masalah bila Indonesia digugat dan harus hadir di persidangan yang dihelat WTO.

“Kalau ingin nikel silakan, tapi datang bawa pabriknya ke Indonesia, bawa industrinya, bawa teknologinya ke Indonesia,” ungkap Presiden Joko Widodo saat hadir di acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) secara virtual, Rabu (24/11/2021).

Read More

Jokowi mengaku akan terbuka dengan negara-negara luar soal pasokan nikel tetapi dengan syarat, negara-negara global bisa memboyong pasokan nikel bila mengolahnya terlebih dahulu di Tanah Air.

“Tidak sampai barang jadi juga tidak apa-apa kok. Setengah jadi juga boleh nanti baterainya dikerjakan di sana silakan, mobilnya di kerjakan di sana silakan,” kata Jokowi.

Selama ini, Indonesia diketahui mengekspor bijih nikel mentah dan malah mengimpor barang jadi nikel. Padahal, diketahui nikel di Indonesia adalah 30% cadangan dunia (US Gelogical Survey, 2020). Dan akhirnya, Indonesia memanfaatkan pengembangan sektor perindustrian ini menjadi lebih baik lewat hilirisasi industri nikel.

Dengan hilirisasi nikel, bijih nikel bisa diolah menjadi produk-produk turunan, baik yang setengah jadi hingga produk jadi.

Tetapi di saat Indonesia sudah mengembangkan industri mobil listrik, terlebih dengan didirikannya pabrik baterai kendaraan listrik, akan lebih efisien apabila proses pengolahan nikel seluruhnya dikerjakan di industri Tanah Air.

Sudah ada bukti nyata 2 negara luar yang tak masalah dengan larangan ekspor nikel dan berinvestasi di industri kendaraan listrik yaitu  Korea Selatan dan Tiongkok. Perusahaan LG asal Korsel tersebut telah berinvestasi sebesar Rp142 triliun di pembangunan Karawang New Industry City (KNIC), pabrik baterai kendaraan listrik yang dibangun di Karawang. Ada juga investasi dari CATL asal Tiongkok yang berinvestasi sebesar US$5,2 miliar atau Rp75,4 triliun.

Negara Eropa dapat mencontoh dua negara Asia yang bersedia mengikuti permintaan Indonesia untuk turut mengembangkan industri kendaran listrik di Tanah Air. Bila dirasa memindahkan pabrik terlalu ribet, hanya dengan ikut menanamkan modal atau investasi, negara-negara global juga bisa menikmati hasil dari industri kendaraan listrik Indonesia.

Related posts