Vonis Hakim Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa, Kuasa Hukum Terdakwa: Klien Kami Terima Putusan dan Akan Jalani Sebaik-baiknya…

  • Whatsapp

DEPOK, KOMPAS.com – Kuasa hukum terdakwa kasus pemerkorsaan anak A, Angelica, mengatakan bahwa kliennya menerima putusan majelis hakim meski vonis yang dijatuhkan lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum.

Read More

Majelis hakim memvonis terdakwa A dengan hukuman 20 tahun kurungan penjara serta  denda Rp 1 miliar karena terbukti telah melakukan pemerkosaan terhadap anak kandungnya, DN (11).

Selain itu, A juga diwajibkan membayar uang ganti rugi atau pemulihan kondisi (restitusi) sebesar Rp 76.657.252 kepada korban atau keluarganya.

“Kami selaku penasihat hukum turut menerima keputusan yang ada, dan juga terdakwa A menerima putusan dan akan menjalani putusan dengan sebaik-baiknya,” kata Angelica kepada wartawan usai sidang vonis di Pengadilan Negeri Depok, Rabu (13/7/2022).

Meski hakim memvonis A lebih berat dari tuntutan jaksa, Angelica mengaku, pihaknya telah menerima keputusan hakim yang telah mempertimbangkan sesuai keadaan yang memberatkan dan meringankan dari terdakwa.

“Jadi semuanya sudah diserahkan kepada hakim, maka kami sebagai warga negara yang taat hukum akan melanjutkan pidananya,” ujar Angelica.

Terlebih, kata Angelica, kubunya juga tak mengajukan banding atas vonis diputuskan majelis hakim.

“Tadi juga ditanyakan kepada terdakwa apakah terdakwa menerima atau tidak. Karena sudah dibilang terdakwa menerima maka sekarang kami juga menerima,” ujar dia.

Adapun vonis tersebut dibacakan oleh majelis hakim Nugraha Medica Prakasa di ruang sidang utama Pengadilan Negeri (PN) Depok pada Rabu (13/7/2022) petang.

Divonis 20 Tahun Penjara, Pemerkosa Anak Kandung di Depok Tak Ajukan Banding

Hakim Nugraha menyatakan, terdakwa A terbukti secara sah dan menyakinkan telah melakukan tindakan pemerkosaan terhadap DN.

Hakim Nugraha menilai, terdakwa A melanggar Pasal 81 Ayat (1) Ayat (3) dan Ayat (5) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Hakim Nugraha menyebutkan hal-hal yang memberatkan terdakwa di antaranya, perbuatan terdakwa A meresahkan masyarakat serta mengakibatkan anak kandungnya mengalami sakit dan trauma psikologis.

“Terdakwa melakukan perbuatan tersebut terhadap anak kandungnya sendiri yang seharusnya dilindungi oleh terdakwa. Tidak ada hal-hal yang meringankan,” kata Hakim Nugraha.

Vonis Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa

Putusan ini lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum sebelumnya. Terdakwa A dituntut 18 tahun penjara dan dibebankan denda sebesar Rp 1 miliar dalam kasus pemerkosaan anak kandungnya.

Tuntutan dibacakan jaksa penumtut umum (JPU) di ruang sidang PN Depok pada 22 Juni 2022.

“Menyatakan terdakwa A terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan,” kata Andi Rio dalam keterangan pers, Rabu (22/06/2022).

Andi Rio menuturkan, terdakwa A juga dituntut membayar denda Rp 1 miliar dan membayar uang ganti rugi atau pemulihan kondisi (restitusi) kepada korban atau keluarganya sebesar Rp 76,6 juta.

“Selain pidana badan, terdakwa pelaku persetubuhan ini juga dibebankan membayar denda sebesar Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan dan pidana tambahan berupa restitusi sebesar Rp 76,6 juta subsider enam bulan kurungan,” ujar Andi Rio.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Vonis #Hakim #Lebih #Berat #dari #Tuntutan #Jaksa #Kuasa #Hukum #Terdakwa #Klien #Kami #Terima #Putusan #dan #Akan #Jalani #Sebaikbaiknya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts