Tips Aman Bertransaksi dengan Kode QR

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Tindak penipuan atau kecurangan bisa terjadi dalam metode pembayaran apapun, termasuk pembayaran digital yang menggunakan kode respons cepat atau QR Code.

Read More

Belakangan, ada cerita seorang kasir sebuah restoran ditipu oleh konsumen yang mengaku telah mentransfer dengan jumlah yang terlalu banyak.

Tagihan Rp 90.000, diakui dibayar sebesar Rp 900.000, atau ia sebut kelebihan 0 saat menekan nominal pembayaran.

Kasir pun didesak untuk mengembalikan selisih yang tidak sengaja ia transfer itu dengan uang tunai.

Setelah permintaanya dituruti oleh kasir, pihak manajemen restoran menemukan bukti bahwa si konsumen ternyata tidak pernah melakukan pengiriman atau transfer dana sama sekali, apalagi dengan besaran seperti yang ia sampaikan.

Padahal dia ga transfer apa-apa. Bukti transfernya editan dong. Buat teman-teman yang punya usaha dan di kasirnya ada QR Code, waspada ya,” tulis pesan dalam informasi yang diunggah di salah satu akun media sosial itu.

Pembayaran dengan QR Code  

Untuk diketahui, pembayaran menggunakan metode QR Code sesungguhnya bertujuan untuk memudahkan semua pihak yang terlibat dalam transaksi.

Kedua pihak tidak lagi perlu memegang uang tunai, kartu debit/kredit, memasukkan PIN, dan sebagainya, karena QR Code yang dibuat sudah terasosiasi dengan akun rekening atau dompet digital tertentu.

Seseorang yang akan melakukan pembayaran cukup memindai kode QR yang ada di tempat yang ia kunjungi dan bisa langsung melakukan transaksi menggunakan aplikasi di ponselnya.

Masukkan jumlah nominal yang harus dibayarkan, lalu konfirmasi pembayaran. Kemudian tunjukkan bukti pembayaran kepada pihak penerima.

Transaksi pun selesai hanya dengan memindai kode yang tersedia dengan menggunakan ponsel.

Ahli di bidang Teknologi Informasi menyebut penipuan dalam ranah ini sesungguhnya tidak berbeda jauh dengan penipuan menggunakan tautan atau link pada mesin perambah (browser).

“Penipuan dengan QR Code sama konsepnya seperti penipuan dengan link pada browser, hanya beda media,” kata Dosen Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Nurcahya Pradana Taufik Prakisya, Kamis (21/7/2022).

Ia menjelaskan, ada sejumlah hal yang harus dipahami baik oleh pembayar maupun pihak penerima jika akan melakukan transaksi menggunakan salah satu metode pembayaran digital ini.

Bagi pihak pembayar, pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa kode QR yang akan dipindai didapat dari sumber yang jelas.

Misalnya, jika kita akan membayar transaksi di sebuah tempat makan, maka pastikan kode QR didapat dari lokasi tersebut.

Selanjutnya, jangan pernah menyebutkan atau memberi tahu kata sandi atau informasi sensitif yang dapat digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk berbuat kriminal.

PIXABAY/GERD ALTMANN Ilustrasi seseorang sedang memindai kode QR.

Kemudian bagi pihak yang akan menerima pembayaran menggunakan metode pindai QR Code, demi terhindar dari upaya kecurangan yang menimbulkan kerugian, waspada saat ada pihak yang melakukan komplain terkait pembayaran.

“Kalau seperti ini memang perlu waspada utamanya kalau ada customer yg seperti itu. Mungkin jika ada customer yang komplain soal kelebihan bayar dan lain-lain, bisa sambil didampingi oleh pegawai lain,” kata Nurcahya.

Sebagai bentuk kehati-hatian, tak ada salahnya untuk meminta identitas orang yang bersangkutan.

Sehingga, jika mereka terbukti melakukan kecurangan, pihak yang dirugikan sudah memiliki identitasnya.

“Minta biodata lengkap, bahkan KTP kalau perlu. Jika kemudian yang bersangkutan marah-marah atau tidak berkenan, bisa dipastikan itu hanya penipuan,” pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


#Tips #Aman #Bertransaksi #dengan #Kode #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts