Penyandang Disabilitas tetapi Kok Berprestasi?

  • Whatsapp

DI ASEAN Para Games 2022 yang telah berlalu, para atlet penyandang disabilitas asal Indonesia berhasil mengukir sejarah. Kontingen Indonesia berhasil mendapatkan perolehan medali terbanyak bagi Indonesia sejak dimulainya ASEAN Para Games tahun 2001.

Read More

Kontingen Indonesia mendapatkan 175 medali emas, 144 medali perak, dan 107 medali perunggu. Para atlet tidak hanya mengukir sejarah bagi Indonesia, tetapi juga bagi diri mereka sendiri.

Bila membaca liputan tentang para atlet dengan disabilitas asal Indonesia yang bertanding di ASEAN Para Games 2022, tampak bahwa perjuangan mereka, yang telah dimulai jauh sebelum pertandingan, luar biasa.

Di antara semua atlet penyandang disabilitas Indonesia yang luar biasa, misalnya, ada Ukun Rukaendi, atlet bulu tangkis peraih dua medali emas yang sudah berusia 52 tahun; Suryo Nugroho, atlet bulu tangkis yang pernah kecelakaan hingga diamputasi; Rexus Ohee, atlet boccia asal Papua yang dahulu hanya sering bersembunyi di dalam rumah; Fauzi Purwo Laksono, atlet tolok peluru peraih medali emas yang sempat terpapar Covid-19; dan Bang Udin atlet panahan yang juga seorang penjual bubur.

Melihat torehan prestasi kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2022, kisah mereka, dan para atlet yang lain tentunya sangat inspiratif. Perjuangan setiap atlet untuk berlatih, mengalahkan diri sendiri, dan menghadapi lawan pertandingan sesuatu yang luar biasa.

Inferioritas

 

Secara psikologis, apa yang membuat atlet-atlet penyandang disabilitas Indonesia dapat mengukir prestasi?

Salah satu konsep dalam psikologi yang dapat digunakan untuk menjelaskan aspek psikologis para atlet disabilitas yang berprestasi adalah inferioritas. Konsep ini dicetuskan seorang dokter bernama Alfred Adler, yang sering menemukan pasien dengan ketidaksempurnaan fisik baik karena bawaan lahir maupun karena kejadian tertentu selama masa perkembangan.

Inferioritas merupakan rasa diri kurang atau rasa rendah diri yang terjadi karena melihat diri kurang sempurna, kurang berharga, atau kurang mampu bila dibandingkan orang lain.

Adler berpendapat, inferioritas ternyata bukan semata petunjuk bahwa seseoarang memiliki kelemahan, melainkan juga dapat menjadi bahan bakar penggerak bagi orang tersebut untuk meningkatkan kualitas diri menuju ke kesuksesan.

Melalui kisah atlet-atlet penyandang disabilitas terbaca bahwa mereka memang pernah mengalami masa rendah diri dan merasa kurang sempurna. Walaupun begitu, dalam perjalanan hidup, mereka menemukan panggilan sebagai atlet.

Panggilan sebagai atlet itu kemudian mereka hidupi karena mereka yakin bahwa jalan itu memberi mereka kesempatan untuk menjadi diri yang lebih “superior” dan sukses, sehingga hidup mereka akan lebih berarti.

Tentu, di setiap kisah tersebut ada peran orang lain yang turut “memanggil”, mendorong, mendukung, dan mendampingi hidup mereka. Kisah para atlet disabilitas Indonesia menunjukkan bahwa ada dorongan yang luar biasa besar dari dalam diri untuk menunjukkan bahwa mereka juga memiliki keunggulan.

Dorongan untuk membuktikan bahwa diri mereka berkualitas, ditambah dengan semangat nasionalisme bertanding demi Merah Putih membuat mereka mampu mengeluarkan semua potensi yang mereka miliki.

“Nyawiji, greged, sengguh ora mingkuh”

Inferioritas memang memang dapat menjadi pelecut bagi setiap orang untuk bergerak menjadi pribadi yang luar biasa. Tetapi, dorongan saja tidak cukup. Setiap orang perlu “nyawiji, greged, sengguh ora mingkuh” dalam menghidupi panggilan mereka.

Inilah yang tampak dari kisah para atlet penyandang disabilitas yang bertanding di ASEAN Para Games 2022. “Nyawiji, greged, sengguh ora mingkuh” merupakan pribahasa Jawa, yang menggambarkan etos kerja dan cara bagaimana seharusnya seseorang menjalani peran mereka.

“Nyawiji” berasal dari kata “siji” yang artinya satu; maka “nyawiji” artinya menyatu. Atlet disabilitas “menyatu” dengan ketidaksempurnaannya. Mereka menerima diri, tidak menampik bahwa mereka tidak sempurna. Hal ini membantu mereka untuk tidak menghabiskan waktu memikirkan kelemahan semata, tetapi fokus pada potensi yang dimiliki.

“Greged” artinya semangat. Melalui berbagai pemberitaan di media, terbaca bahwa semua atlet bertanding dengan penuh semangat. Mereka penuh semangat untuk membuktikan bahwa diri mereka yang terbaik. Tidak hanya itu, atlet penyandang disabilitas Indonesia juga bertanding dengan penuh semangat demi Bangsa dan Negara Indonesia.

Semangat yang sama besarnya telah mereka tunjukkan jauh bulan sebelum pertandingan, pada masa persiapan dan latihan.

“Sengguh ora Mingkuh” artinya sanggup dan pantang mundur. Para atlet penyandang disabilitas Indonesia menunjukkan bahwa mereka sanggup menjalankan peran mereka sebagai atlet Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan kesungguhan mereka sejak mulai dari latihan hingga pertandingan.

Pada saat bertanding, atlet-atlet penyandang disabilitas Indonesia juga menunjukkan sikap tidak menyerah. Beberapa atlet menuturkan bahwa badan mereka sakit, dan beberapa atlet mengatakan bahwa musuh mereka lebih kuat, tetapi mereka tidak mundur. Perjuangan para atlet itu  menunjukkan bahwa setiap orang punya peluang untuk berprestasi.

Setiap manusia memiliki disabilitasnya masing-masing, ada yang tampak, ada pula yang kasat mata. Karena itu setiap manusia pada dasarnya sama, mempunya inferioritasnya masing-masing, tetapi karena itu maka setiap manusia juga memiliki potensinya masing-masing untuk menjadi superior dan berprestasi.

Belajar dari para atlet, maka setiap orang secara psikologis perlu tergugah untuk selalu memperbaiki kualitas diri, kemudian peka terhadap “panggilan”, lalu menghidupi panggilannya dengan “nyawiji, greged, sengguh orang mingkuh”.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Penyandang #Disabilitas #tetapi #Kok #Berprestasi #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts