Perusahaan Konsultan IT Asal AS Bidik Pasar “Cloud Computing” di RI

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Searce Inc, perusahaan konsultan teknologi informasi (IT) asal Amerika Serikat (AS) yang menitikneratkan pada adopsi cloud computing (komputasi awan) berencana memperbesar pasarnya di Indonesia tahun ini.

Read More

Country Director Searce di Indonesia Benedikta Satya mengatakan, sebelum masuk ke Indonesia pada 2020, Searce lebih dulu masuk ke Singapura, lalu ke Malaysia.

Dengan demikian, layanan Searce di Asia Tenggara baru ada di tiga negara yakni Singapura, RI dan Malaysia. Sementara secara global, layanan Searce hadir di 8 negara. Sebagai informasi, Searce sebagai perusahaan konsultan IT bermitra dengan Google Cloud dan Amazon (AWS).

Kemudian, periode 2020-2021, pertumbuhan Searce di Indonesia sangat pesat, akibat tingginya kebutuhan digitalisasi akibat pandemi Covid-19. Perusahaan pun memerlukan figur lokal untuk menyokong pertumbuhannya dan agar lebih baik berhubungan dengan pelanggan lokal.

Sehingga, didapuklah Benedikta, lulusan jurusan Marketing di President University, yang sudah malang melintang di bidang pemasaran teknologi dan cloud di berbagai perusahaan IT sejak 2010.

Benedikta mengatakan, saat ini customer Searce di Indonesia ada sekitar 60, yang terdiri atas startup, fintech, hingga perusahaan tradisional. Misalnya saja, Halodoc, Paxel, SiCepat, HappyFresh, Kredivo, Smartfren, Kalbe, MS Glow hingga Wilmar.

“Hingga akhir tahun, kami targetkan menambah jadi 100 logo. Serta, menambah 5 engineer sehingga totalnya jadi 7 engineer,” kata Benedikta atau Bene, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Perlebar fokus bisnis ke perusahaan tradisional

Ia juga akan menambah fokus bisnis ke perusahaan tradisional, walau startup atau native digital business tetap jadi fokus utamanya. Perusahaan tradisional yang dibidik seperti perbankan, migas, serta manufaktur.

“Kami akan lakukan inovasi dan penetrasi ke perusahaan-perusahaan tradisional tersebut untuk edukasi dan bantu transformasi digital mereka, mulai tahun ini,” lanjut Bene.

“Fokus utama tetap startup karena pengalaman kita di sana sudah banyak. Makanya kita akan bikin Searce Innovation Day pada 6 September, invite sekitar 100 lebih cistomer dari aneka industri dari keuangan, logistik, farmasi yang lebih ke digital native company atau startup. Itu kami sediakan untuk sharing apa yang sudah kami lakukan ke customer, dimana ita bisa bantu untuk enhance bisnis mereka.”

Bene menambahkan, saat ini porsi kontribusi bisnis dari Indonesia sudah 50 persen dari revenue di Asteng, jauh lebih besar dari Malaysia.

“Kalau dilihat dari potensi pasar, Indonesia itu besarnya sama dengan Singapura tambah Malaysia, Filipina dan lain-lain. Untuk tahun ini, kami targetkan kontribusi revenue Indonesia bisa naik jadi 70 persen,” tukasnya.

Besarnya revenue Indonesia, lanjut Bene, lantaran dari sisi populasi, Indonesia jauh lebih besar dari negara Asteng lain. Dari startup, Indonesia posisi 5 jumlah startup terbanyak di dunia. Kemudian, daya beli dan adopsi teknologi di Indonesia juga cepat.

 

Tantangan SDM IT lokal

Menurut Bene, ada banyak sekali perusahaan asing maupun lokal yang berbisnis di cloud mengincar besarnya potensi pasar Indonesia. Sehingga, layanan Searce juga harus berbeda dan lebih berpengalaman memberikan solusi cloud untuk banyak industri di Indonesia.

“Kebanyakan calon klien tanya, ada enggak company sejenis saya yang sudah kamu tangani. Itu tantangan kami untuk melebarkan sayap, terutama ke perusahaan tradisional,” kata Bene.

Hal itu menimbulkan tantangan baru, yakni memberikan edukasi adopsi cloud untuk perusahaan tradisional. Masuk ke segmen ini, kata Bene, tidak mudah karena butuh waktu panjang untuk edukasi.

Bagaimana Searce punya perbedaan value dibanding kompetitor? Bene bilang, hal ini masih dalam proses agar membuat posisinya berbeda. Menambah engineer lokal merupakan salah satu strategi pembeda untuk memperkuat posisi Searce di Indonesia. Namun, tak mudah mendapatkan SDM IT lokal. 

“Banyak company global masuk ke Indonesia tapi mereka biasanya masuk dari sisi bisnis dulu, mereka enggak punya support dari sisi teknikal (untuk SDM lokal). Kami maunya siap dari sisi bisnis dan teknikal ini. Ini hopefully yang akan bantu memperkuat bisnis kita di Indonesia,” ujar Bene.

Edukasi UMKM

Saat ini Searce di Indonesia tidak secara langsung menyasar UMKM sebagai penggunanya, tapi lebih kepada kerja sama edukasi soal cloud computing dengan pemerintah.

Sejumlah kerja sama edukasi UMKM soal adopsi cloud antara lain dengan Pemkot Jatim dan Kadin Kalimantan.

“Targetnya edukasi, itu juga akan berkembang karena pemerintah sangat support digitalisasi UMKM, jadi kami bantu pemerintah untuk bantu mereka,” kata Bene

Sebagai tambahan informasi, dalam beberapa tahun ke depan, belanja TI di Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik.

Dari studi yang dikutip Allied Telesis, perusahaan teknologi komunikasi jaringan asal Jepang, pendapatan di pasar layanan TI diproyeksikan mencapai 3,6 miliar dollar AS pada 2022, dan hingga 2027 diperkirakan tumbuh (CAGR) sebesar 11,86 persen.

Sehingga diperkirakan pasar layanan TI Indonesia akan mencapai 6,31 miliar dollar AS pada 2027.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Perusahaan #Konsultan #Asal #Bidik #Pasar #Cloud #Computing #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts