Viral, Unggahan Obat Penyakit Langka dan Menular Kusta, Ini Kata Dokter

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Sebuah video yang memperlihatkan obat berwarna merah putih dengan bungkus merah muda, viral di media sosial TikTok.

Read More

Diunggah oleh akun ini pada Kamis (18/8/2022), video tersebut disertai pula dengan keterangan, “Setelah 5 tahun lebih, puskesmas kembali mendapatkan pasien ini.

Selain itu, pengunggah juga menyertakan narasi, “KASUS LANGKA dan MENULAR”.

Menjawab pengunggah, beberapa warganet TikTok menyebut obat dalam unggahan merupakan obat penyakit kusta.

kusta itu menyebabkan lesi dan kerusakan saraf jadinya maaf dagingnya nanti pada hilang dikit”, penyebarannya lewat udara pernapasan batuk/bersin,” komentar salah satu warganet.

baru tahu ternyata pil itu untuk penyakit kusta. dan nenekku dulu pernah konsumsi pil itu,” kata warganet lain.

kusta itu seperti apa?” tanya warganet TikTok.

Penjelasan ahli

Dosen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Ismiralda Oke Putranti membenarkan, obat dalam unggahan TikTok adalah obat penyakit kusta.

Namun demikian, ia membantah bahwa kusta adalah penyakit langka.

“Tapi penyakit kusta bukan penyakit langka. Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan jumlah kasus kusta terbanyak di dunia,” ujar dokter yang kerap disapa Oke, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (19/8/2022).

Oke mengatakan, kusta pernah menjadi wabah pada zaman Nabi Muhammad SAW dan masih eksis hingga saat ini.

Pasalnya, kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit ini sudah sangat berkurang, sehingga tidak mengira kasus kusta masih banyak terjadi.

Lantas, apa itu Kusta?

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

Oke menjelaskan, salah satu tanda atau gejala penyakit kusta adalah timbulnya bercak putih atau kemerahan yang mati rasa.

Tanda tersebut disertai dengan penebalan saraf perifer atau saraf tepi, yakni saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang.

“Dan pada pemeriksaan mikrobiologi ditemukan bakteri Basil Tahan Asam (BTA),” tutur Oke.

Selain gejala di atas, Oke menyebut bahwa penderita kusta bisa juga dicurigai apabila terkena 5A, yakni:

  • Akromia, yaitu timbul bercak kulit berwarna putih atau kemerahan.
  • Anastesia, yaitu terdapat mati rasa pada bercak tersebut. Pada kusta tipe menular, mati rasa ditemukan di kedua telapak tangan dan kaki.
  • Anhidrosis, berupa kulit yang mengalami kerusakan saraf otonom akan menjadi kering karena produksi keringat terhenti.
  • Alopesia, yakni terjadi kerontokan rambut pada lesi kulit. Bisa juga mengalami madarosis atau kerontokan pada alis dan bulu mata.
  • Atrofi, terjadi pengecilan otot akibat saraf motorik mengalami kerusakan, sehingga otot tidak menerima rangsangan untuk bergerak. Akibatnya, otot mengecil dan terjadi kecacatan.

Cara penularan Kusta

Disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, kusta bukan merupakan penyakit yang mudah menular.

Oke menyampaikan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membagi kusta menjadi dua macam untuk memudahkan terapi dan pengendalian.

Pertama, pausibasiler atau kusta kering yang relatif tidak menular.

“Pada kusta kelompok ini jumlah bakteri yang masuk relatif sedikit dan mayoritas dapat dieliminasi oleh sistem imunitas seluler tubuh kita,” kata Oke.

Kedua, multibasiler atau kusta basah. Kusta jenis ini dapat menular ke orang-orang di sekitar.

“Jumlah bakteri di dalam tubuh pasien sangat banyak dan dapat menularkan ke orang-orang di sekitarnya,” tuturnya.

Meski menular, Oke mengingatkan, penularan kusta tidak bisa terjadi dalam waktu singkat. Misalnya, hanya dengan berpapasan sebentar atau berbicara dengan penderita.

Melainkan, membutuhkan kontak erat serta waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun.

“Membutuhkan waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) dan kontak erat baru seseorang dapat tertular. Yang paling rentan biasanya anggota keluarga,” terang Oke.

Pengobatan kusta sendiri membutuhkan waktu lama, tergantung jenis kusta yang diderita.

Oke menyebut, kusta pausibasiler membutuhkan pengobatan selama 6-9 bulan.

Sementara kusta multibasiler, memerlukan durasi pengobatan lebih lama, yakni sekitar 12-18 bulan.

“Dan pengobatan kusta menggunakan Multi Drug Treatment (MDT) 2-3 jenis obat antibiotik untuk mengurangi risiko resistensi obat dan mempercepat eliminasi kuman kusta,” jelas Oke.

Ia menambahkan, meski berpotensi menular, penderita kusta tak perlu sampai mengisolasi diri.

“Cukup melakukan pengobatan rutin dan menggunakan masker saja untuk mengurangi risiko menularkan (kepada) orang lain,” ungkap Oke.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Viral #Unggahan #Obat #Penyakit #Langka #dan #Menular #Kusta #Ini #Kata #Dokter #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts