Perburuan Berang-berang Bisa Ganggu Rantai Makanan

  • Whatsapp

DEPOK, KOMPAS.com – Pemerhati Ekosistem dan Satwa Liar dari Aspera Madyasta (Asta) Indonesia, Averroes Oktaliza menyampaikan hingga saat ini perburuan berang-berang masih terjadi.

Read More

Hewan mamalia itu, ditangkap oleh warga maupun diperjual belikan para pemburu sehingga menganggu rantai makanan.

Asta Indonesia menghimpun data dari internet terkait jual beli satwa liar termasuk berang-berang.

 

Hasilnya menunjukkan, dari satu grup Facebook, setidaknya ada ratusan ekor berang-berang yang dijual dalam sepekan.

“Berdasarkan data yang dihimpun dalam periode satu minggu, jual beli berang-berang mencapai 100 ekor,” ujar Ave kepada Kompas.com, Sabtu (8/10/2022).

“Sekarang kalau satu minggu setahun pertanyaannya mereka dapat dari mana? Kami mencurigai bahwa itu adalah aksi perburuan,” sambung dia.

Padahal, lanjut dia, sepanjang hidupnya berang-berang hanya melahirkan 1-3 anak saja. Itupun, tak semua bisa hidup lama.

Apabila hewan itu terus diburu, maka bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus berkurang.

“Kami enggak ingin berang-berang terus-menerus diburu,” imbuh Ave.

Ave berpendapat, sesungguhnya masyarakat sudah merasakan dampak ketika kehilangan berang-berang di alam.

Kala itu, masyarakat di Kota Depok mengalami “teror” ular kobra yang masuk ke rumah. Kondisi ini, menurut dia, adalah imbas dari terganggunya rantai makanan.

“Di tahun 2019 kan sudah merasakan warga Depok terkena teror ular kobra masuk ke rumah. Itu bisa dikatakan salah satu fakta bahwa ada ketidakseimbahgan di ekosistem atau di alam,” jelas Ave.

Melalui studi berang-berang di segmen 4 Sungai Ciliwung, Ave berharap, pemerintah dan peneliti bisa mendapatkan gambaran terkait ekosistem di Ciliwung yang menjadi rumah bagi satwa tersebut.

Ia berharap spesies berang-berang cakar kecil atau aonyx cinereus dilindungi oleh pemerintah.

Secara internasional, kata Ave, perdagangan berang-berang sudah sangat dilarang.

Oleh karena itu, pihaknya mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengkaji aturan perlindungan terhadap hewan berbulu tersebut.

“Harapannya status dari berang-berang cakar kecil ini bisa naik tahap pelindungan atau dilindungi negara layaknya berang-berang bulu licin,” tutur Ave.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Perburuan #Berangberang #Bisa #Ganggu #Rantai #Makanan #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts