Terlalu Tua untuk “Passion”?

  • Whatsapp

WAKTU pertama kali berniat berangkat dalam road trip 18 hari, saya sempat bertanya- tanya pada diri sendiri, di depan cermin yang setia menemani saya sejak lulus kuliah dulu.

“Apa gue enggak ketuaan ya buat nge-road trip kayak gini? Jiaahhh, pake vlogging segala lagi, berasa anak muda banget sih Ded?”

Saya lihat-lihat di kaca, memang rasanya saya sudah banyak kemajuan sejak masa muda dulu. Terutama jarum timbangan saya yang udah maju jauh ke kanan, dan perut saya yang sedikit lebih maju ke depan.

Memang, ada tiga jenis orang di dunia. Orang pertama yang selalu enggak mengejar passion-nya karena merasa masih terlalu muda, orang kedua yang enggak mengejar passion-nya karena merasa terlambat alias terlalu tua, dan orang ketiga yang sibuk beralasan kalau dia, well, terlalu sibuk.

Ini bikin saya jadi bertanya, “Emang ada ya? Batas waktu buat ngejer passion dan ngelakuin passion project? Kalau lewat, bakal ditangkep ‘passion police’ gitu?

Perjalanan hari ke 3- 4 saya di Semarang menjawab pertanyaan ini.

Di Semarang, saya menuju ke suatu tempat baru yang lagi populer, sebuah cafe yang Bernama Kopi Blirik, untuk bertemu dengan pemiliknya, Bu Nurul Fajriyah dan Pak Djony Heru.

Kenapa khusus ke sana kata Anda?

Well, karena kedua pemilik cafe/ resto SUPER KREATIF, atau yang suka mereka sebut warung kopi ini bukan anak muda atau pengusaha yang sudah berpengalaman seperti umumnya, tapi karena mereka adalah pengusaha pertama kalinya dalam bidang kuliner, malah dalam usia jelang pensiun!

“Abis pensiun ngapain?” pikir Bu Nurul pada Pak Djony. “Nanem pohon duren, nanti di antara masa panennya gimana?”

Di sinilah muncul ide untuk mengikuti passion project yang dari dulu ingin digarap pak Djony. Kuliner. Tapi bukan kulineran biasa, tapi ngopi, dan bukan ngopi biasa, tapi ngopi di tengah sawah!

Tetapi karena kedua pemilik ini belum pernah bikin cafe sebelumnya, Bu Nurul, nekat untuk magang, kayak anak mahasiswa atau bahkan anak SMA yang baru belajar kerja, demi diam-diam nyolong ilmu bisnis kuliner dari ‘warung’ lainnya.

Dan sejak berdirinya di tahun 2020, Kopi Blirik sukses besar jadi tujuan wisata orang-orang di Semarang, atau turis yang datang ke Semarang.

Tonton video saya di bawah untuk melihat obrolan saya bersama Ibu Nurul langsung di lokasi Kopi Blirik, sambil kulineran di Semarang!

Di Semarang, saya bukan cuma mampir ke Kopi Blirik, tapi juga ke Warung Ndeso D’Kambodja milik Ibu Anne Avantie.

Anda mungkin kenal Anne Avantie sebagai fashion designer, tapi belakangan, beliau juga memutuskan untuk menggarap passion-nya yang lain dalam kuliner, dan memulai sebuah venture baru sama sekali, di usia beliau, dan setelah puluhan tahun berada di industri yang berbeda sama sekali. Dan ternyata bisa tuh!!

Kedua kasus ini membuktikan satu hal pada saya, pada kita semua.

Ketuaan untuk passion dan untuk ngejalain passion project itu ternyata omong kosong!

Enggak ada yang namanya ketuaan untuk ngejalanin dan nyobain, atau bahkan mempelajari passion project Anda, selama Anda memang mau!

Saya enggak ketuaan untuk nge-vlog, Andapun enggak ketuaan untuk mengejar passion project Anda, apapun itu, mau belajar gitar kek, mau belajar tap dance kek, mau jadi streamer kek.

Satu- satunya yang ngehambat adalah mindset Anda sendiri untuk menolak happy!

Kalau Pak Djony, Bu Nurul, dan Bu Anne Avantie, bisa, apa alasan Anda untuk ngegarap passion Anda?

Karena sebenarnya ada orang tipe keempat. Yaitu mereka yang tahu dan mau melakukan passion mereka, take action upon it!


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Terlalu #Tua #untuk #Passion #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts